Cerita Pukis





Dua bulan terakhir ini ikut kuis-kuis foto di Instagram, dari yang cuma setor stok foto sampai yang diniatin bikin videonya. Terus ga ada yang menang gitu ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Sedih, ga bohong lah, pasti ada sedihnya; apalagi kalo liat yang menang ternyata ginigitu (no, its not based on their pictures because I know that everyone is subjective (the judges is of course subjective); it’s about some of the requirement they failed to fill, but they win anyway). Tapi ternyata, dengan berpartisipasi ke lomba-lomba kayak gitu, saya bisa menangkap kesimpulan bahwa takdir di tangan Tuhan. Lha selama ini mikir takdir di tangan siapa neng?! ๐Ÿ˜’Hihihihi, I mean no matter how hard we tried, kadang yang namanya nasib itu tak tentu arah. Jadi masa ga yakin sama rencana Tuhan sik, di kuis ini ga menang, tapi suami dapat rejeki. Macem kayak gitu lah. Intinya, udah ikutan kuis kayak gitu gausah diambil hati.

Hati. Oh hati.

Pernah baca tagar #makeinstagramfunagain? Jadi konon pengguna pertama Instagram adalah orang-orang yang gamau peduli orang bilang apa soal foto yang diunggah. Ga ada juga lagi ngetren ini, semua ikut ini, jadi liat feed IG kayak liat sekolahan, fotonya seragam semua. Saya bukan pengguna ipun, gabung IG akhir 2015 yang udah terbilang telat. Tapi sedikit banyak saya mengamini tagar #makeinstagramfunagain. Sadar ga sih feed diisi foto yang senada seirama senafas dan sepersinggungan? Kalo food photography nih, 2 tahun lalu ala kinfolk yang lagi ngehitz. Dari #whiteaddict, #flatlay, #kinfolkish sampai #fotokopi. Beberapa waktu belakangan ini, foto makanan serba gelap. Maksudnya #darkmoody, editing dengan vignette yang tebel, kalo perlu dikasi filter ala-ala FP Rusia sana, terus daun Maple berhamburan, jare dewe lagi winter.

Yayayaya kita boleh berkilah bahwa fotografi adalah seni memanipulasi cahaya dan fakta #eaaaaa. Bahwa fotografi adalah soal selera jek, guweh mau #hobikopi #flatlay #handsinframe lu mau apa. But have you ever consider taking Instagram as your self reflection? Not who you wanted to be, but who you are. Not to impress, but to have fun. Not to gain likes and followers, but to share you thought. Not to depend on numbers or clichรฉ comments like “wow emejing masbro”, but to pay attention on the caption and picture and have a meaningful chat on the comments section. Yes, Instagram can be that fun and also meaningful.


Bercerita

Menurut sproutsocial.com, sebuah aplikasi manajemen media sosial, panjang caption ideal untuk menaikkan engagements di Instagram adalah 138-150 karakter, bila lebih dari itu, maka pembaca dipastikan akan bosan dan cepat-cepat geser ke atas. Hal ini tak lepas dari fungsi Instagram yang see first, read later. Foto adalah yang utama dan terutama, sedangkan caption hanya sebatas memperkuat konteks foto.

Tapi kemudian saya menyadari satu hal, hey saya kan ga jualan? Jadi buat apa selama ini saya sibuk menjual waktu saya di Instagram? Buat apa selama ini saya trying so hard to fit myself in Instagram by using the long train hashtags, tagging some big accounts while hoping they will repost me so my followers will be doubled, making picture to impress, create caption to wow the reader? Saya ada pada satu titik saat saya sudah terlanjur cinta ke Instagram sebagai etalase hasil karya, namun tak ingin terjebak di dalamnya.

Karena itu saya memutuskan untuk memaksimalkan jatah 2000 karakter yang diberi Instagram dalam satu caption untuk bercerita! Yep, bercerita apa saja. Dari sejarah ala Wikipedia, curcol ala seleb, canda garing dan berbagi resep sampai penemuan mutakhir saya hari itu. Saya batasi hal yang personal dan lebih banyak bercerita tentang hal yang bermanfaat, seperti meningkatkan kesadaran tentang kekayaan tepung lokal lah, percobaan demi percobaan saat berhadapan dengan ragi alami lah or any in between. I realize that Instagram isn’t merely a place to share recipe, but it also a platform to raise some awareness and to spread an idea. And no matter how many our followers is, a voice is a voice. Dan satu suara ini yang sekarang saya coba gunakan untuk memfokuskan pada tepung lokal, bahan lokal, masakan/jajan Indonesia, dan ragi alami. Selain daripada itu ya cuma numpang lewat ๐Ÿ˜„

Well, this is how I make Instagram fun for me. What’s yours?

Resep di bawah adalah resep Pukis yang memakai sourdough starter (ragi alami) sebagai pengembangnya. Saya sempat berdiskusi panjang dengan mbak Tari tentang padanan kata yang tepat untuk mengartikan sourdough. Bila diartikan secara leterlijk, sourdough berarti adonan masam (dan istilah ini juga sudah banyak dipakai, setidaknya sama Wikipedia sih (adonan asam)). Sourdough starter diartikan sebagai Ragi Adonan Masam, begitu hasil bincang singkat saya dengan Pak Ivan Lanin. Tapi setelah ngobrol dengan mbak Tari, sepertinya memang lebih enak terdengar bila sourdough cukup diartikan sebagai Ragi Alami, meski ada berbagai jenis ragi alami, seperti misalnya ragi yang dibuat dari tape ketan atau tape singkong. Jadi bila saya pakai istilah Ragi Alami, kemungkinan besar merujuk pada sourdough, okehhh? ๐Ÿ˜‰


Pukis Ragi Alami

Pada malam hari, bikin levain: campur jadi satu di wadah, tutup cling wrap, fermentasikan 8-12 jam hingga mengembang (saya fermentasikan suhu ruang 6 jam, masuk kulkas 6 jam):
140 gr sourdough starter (pastikan sudah dewasa: saat ditaruh di air, madre ngambang, ga tenggelam)
125 gr gula pasir
225 gr tepung terigu (pake cakra)
50 ml santan kental
150 ml susu cair 


Esoknya saat levain sudah dipenuhi banyak gelembung² dan mengembang, keluarkan dari kulkas. Di wadah lain kocok hingga pucat:

3 butir telur
50 gr gula pasir
½ sdt garam

Campurkan kocokan telur ke levain, aduk rata. Lalu tuang:
40 gr mentega leleh (suhu hangat) ke dlm levain.

Panaskan cetakan pukis dg api kecil. Tes panas: perciki sedikit air, bila terdengar suara CESS berarti telah panas, siap digunakan.


Ambil 1 sendok sayur adonan, tuang ke cetakan hingga 2/3 penuh. Isi semua lubang cetakan, tunggu hingga muncul gelembung2 di permukaan pukis dan pinggirannya mulai set, beri topping, lalu tutup. Pukis telah matang dan permukaannya kering, angkat.



Comments