B.I.R.U



Saya bukan jenis instamama yang super selektif terhadap makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak. Pun bukan juga food nutrition ninja apalagi healthy food nazi yang menerapkan aturan super ketat atas apa-apa yang masuk ke perut kami, terutama anak-anak. Ayolah, saya masih demen beli ayam krispi Sabana yang murah meriah dan enak dan banyak micinnya itu. Apalagi indomi, oh jangan tanya. Meski sudah bisa bikin mi sendiri, tapi jatah indomi sebulan dua kali tak pernah terlewati. 

Namun kita selalu punya ambang batas pada di mana kita menjadi sangat selektif (meski di bagian lain sangat longgar (dan makin ke sini makin berusaha aga ga longgar-longgar sih)). Saya menemukannya di warna. Sampai saat ini saya ga pernah bikin anything rainbow, dari rainbow cake sampai rainbow onde-onde. Selain ga sanggup sama ribetnya membagi adonan dalam tujuh rupa warna, saya juga ga mampu hati pake pewarna makanan gonjreng, entah pake merk butterfly atau hqq. Kalo wilton sih mau-mau aja, cuma duitnya yang ga mau...

Warna yang selalu saya gunakan saat baking paling banter ya dari cokelat bubuk atau daun pandan. Selain itu, hemmmm saya mending ga pake pewarna atau ga bikin sekalian. Maka saat saya ketemu @martani.organic yang menanam - memanen - menyeleksi - mengolah - dan mengepak sendiri hasil taninya dari tepung lokal sampai pewarna alami, saya seneeeeeng banget! Saya membeli sendiri setiap produk mereka tapi tanpa sungkan saya promoin di akun instagram, just because!

Salah satu produk unggulan @Martani.organic adalah Bunga Telang kering (ada juga yang dibuat teh celup). Bunga bernama latin Clitoria Ternatea ini banyak tumbuh Asia, terutama Indonesia, Malaysia dan Thailand yang jamak menggunakannya sebagai pewarna makanan alami. Cara pemakaiannya cukup mudah, tinggal diseduh dengan air panas dan dibiarkan beberapa saat hingga warnanya keluar. 

Memanfaatkan bunga telang sebagai pewarna makanan tidak hanya membuat makanan tampil lebih menarik, namun juga menjadi bahan obrolan dengan bocah. Dari warna biru alami ini saya bisa cerita panjang lebar ke bocah bagaimana air rebusan bunga telang akan berubah warna menjadi ungu saat ditetesi air jeruk nipis. Atau bagaimana petani di Jogja sana berpeluh-peluh menanam bunga telang di desa, agar kita yang terbiasa dengan botol pewarna sintetis dan apa-apa yang pabrikan ini mau sedikit menengok apa yang alam tawarkan. 




Lemper Biru

500 gr beras ketan
2 lembar pandan, simpulkan
500 ml santan kental
30 bunga telang kering
½ sdm garam

Cara membuat:
Rendam beras ketan selama 1 jam, cuci bersih tiriskan.
Kukus ketan hingga setengah matang sekitar 15 menit.
Selagi mengukus, rebus santan dengan daun pandan, bunga telang dan garam hingga mendidih dan berwarna biru, matikan api.
Masukkan ketan kukus ke dalam panci berisi santan panas, aduk hingga ketan menyerap habis santan.
Kukus kembali hingga matang.

Isian:
400 gr daging ayam tanpa tulang
1 bungkus bumbu opor instan (saya pakai bumbu opor @bumbupraktis)
70 ml santan 
gula, haram, merica

Rebus ayam hingga empuk, angkat, suwir² dagingnya.
Panaskan bumbu opor di wajan, masukkan ayam suwir, aduk.
Tambahkan santan, gula, garam dan merica. Aduk-aduk hingga rata, asat dan bumbu meresap.

Penyajian:
Alasi loyang kotak dg daun pisang yg telah dioles minyak tipis. Beri separuh bagian ketan kukus, ratakan sambil ditekan-tekan hingga padat.
Timpa dengan suwiran opor ayam hingga rata.
Terakhir beri ketan lagi sambil diratakan dan dipadatkan. 
Potong sesuai selera, sajikan Lemper Biru dengan Teh Biru Bunga Telang untuk mengusir hati yang biru 😄🤗

Comments

Post a Comment