Bebas Gluten Sehat?



Seiring dengan meningkatnya kesadaran kita tentang makanan sehat, semakin sering kita dengar istilah Gluten Free. Gluten adalah salah satu protein yang terkandung dalam gandum, rye (gandum hitam), jali-jali (barley). Pada orang yang menderita intoleransi gluten atau penyakit celiac (yang jumlahnya sekitar 1 : 1000 orang), gluten memang berbahaya. Namun bagi 98% manusia di bumi, gluten ternyata menyehatkan, loh. Ada banyak studi yang menunjukkan bahwa biji-bijian mengandung gluten justru bermanfaat menurunkan resiko penyakit jantung koroner, obesitas, diabetes, kanker, dsb. Dan hingga kini belum ada penelitian yang membuktikan peningkatan kualitas kesehatan orang-orang yang tidak memiliki penyakit celiac atau intoleransi gluten saat mereka melakukan diet gluten. Sebaliknya, sebagian makanan bebas gluten cenderung kurang bernutrisi seperti kalsium, vitamin B, magnesium, serta, zinc, dan zat besi. 

Loh jadi, gluten itu baik atau buruk toh? Gluten itu buruk kalo kamu punya penyakit celiac atau intoleransi gluten. Tapi Gluten juga belum tentu baik buat kamu yang ga punya dua penyakit di atas. Logikanya gini deh, beras itu baik bagi tubuh karena kandungan karbohidrat dan zat besi yg tinggi, namun sebaliknya berbahaya bagi penderita diabetes. Hanya karena ada orang yg menderita diabetes, belum tentu beras itu buruk bagi kesehatan seluruh umat manusia. Maka begitupun dengan gluten. Hanya karena ada yang alergi gluten, belum tentu tepung non gluten jadi pilihan sehat dan tepung terigu berbahaya.
Loh kok? Lalu studi bahwa tepung terigu baru bisa dicerna lambung selama tiga hari itu hoak?

Begini, kita berdiskusi berbusa-busa tentang baik buruk gluten, pengabdi gluten garis keras VS pejuang gluten free (yang kebanyakan hanya merasa (alias self diagnosed) sensitif terhadap gluten), masing-masing pihak punya argumen dengan dukungan penelitian ilmiah di belakangnya; tapi satu hal penting yang kita semua lupa: kesehatan itu harus dipandang holistik mafren.

Okelah kamu ngotot gluten itu buruk bagi tubuh, terus kamu bikin pancake pake tepung gluten free, tapi toppingnya nutella, rice crispy, susu kental manis sama keju; minumnya susu cokelat. Lha terus sehat dari mana mylov? Apalagi kalo aneka diet makanan itu ga dibarengi banyak gerak, olahraga, hidup bersih dan sehat, tidur cukup, minum cukup, the list is endless 😪😪


Saya ga melarang orang mengkonsumsi tepung gluten, tapi menjustifikasi tepung bebas gluten adalah yang terbaik di saat bersamaan menjelek2kan gluten sebagai sumber penyakit adalah salah kaprah. Apalagi kalo dibarengi dengan jualan #eaaaaa. Gluten itu penyebab penyakit degeneratif, karena itu belilah tepung non gluten di saya 😌😌😪 Jualan ya jualan aja masberow, tapi membawa embel² sehat itu yang saya ga demen 😛




Nah loh, terus kenapa juga saya banyak bagi resep gluten free?


Begini. Sudah tahu belum kalau Indonesia adalah salah satu negara pengimpor (dan pengkonsumsi) gandum terbesar di dunia? Seperti yang kita tahu, gandum adalah tanaman sub tropis. Dan kita tidak pernah tahu pasti dari mana sumber gandum yang diimpor oleh perusahaan gandum tanah air, apakah pertanian gandum tersebut mengaplikasikan GMO atau tidak, bagaimana perlakuannya terhadap lingkungan sekitar, kebijakannya pada petani, dsb. Yang kita tahu, gandum sudah berubah dalam bungkusan plastik tepung terigu dan sudah berderet rapi di rak supermarket.


Memang, kita sendiri tidak tahu bagaimana perusahaan tepung beras, tapioka dan aneka ragam tepung non terigu lain di Indonesia; tapi paling tidak tepung-tepung tersebut dihasilkan oleh pertanian dalam negeri sendiri, betul? Apalagi nih, kalo kita membeli tepung lokal tersebut dari petani lokal yang kita kenal orangnya, di mana lahan pertaniannya, bagaimana cara mengolahnya, dsb. Bukankah membeli produk dalam negeri secara tidak langsung kita turut serta dalam usaha mensejahterakan petani sendiri? 


Lalu soal kesehatan gimana? Kalo mau makan makanan sehat, ya cari yang mentahan dan organik. Semakin lama makanan  diolah (kena panas, dimasak, dioven, dsb), maka semakin berkurang nutrisinya. Jadi cake ini ga sehat dong? You guess. Ini cake sudah diolah. Pun begitu pula aneka dessert lain yang tak lepas dari panas, apalagi kalo kandungan gulanya tinggi. Mau pake tepung non gluten, dikasi superfoods di dalam adonannya, ditambah bahan organik non GMO, tapi kalo semuanya sudah dimasak, ya sila nilai sendiri. Saya ga pernah ngeklaim makanan yang saya bikin sehat, tapi apakah less guilty karena pake tepung lokal, iya banget! Ingat, lagi-lagi, kesehatan ga bisa dipandang cuma dari satu sisi aja dan selalu terapkan hidup berimbang, apapun yang berlebihan itu ga baik mylov 😘

Cukup prolognya, yuk kita kemon ke resep Gluten Free Chocolate Bundt Cake dari seriouseats ini. Saya berkali-kali menulis bahwa tekstur yang dihasilkan campuran tepung non gluten itu seringkali mengejutkan atau bahkan malah tidak kentara sama sekali, hampir tak ada bedanya dengan tepung terigu. Keik cokelat ini masuk kategori terakhir. Teksturnya lembut dan beremah khas muffin, karena memang memakai teknik adonan basah campur ke adonan kering. Ga ada jejak lengket khas tepung ketan dan tapioka, malah menurut saya sedikit lebih lembut daripada bundt cake dari tepung terigu. Salah satu bahan yang mungkin cukup langka adalah penambahan xanthan gum. Saya ga ngerti sesignifikan apa perannya dalam bundt cake ini ya, karena saya belum coba resep ini tanpa tambahan xanthan gum. Yang jelas sih, recommended 👍👍





Gluten Free Chocolate Bundt Cake

sumber: seriouseats


Bahan kering, ayak jadi satu:

1 3/4 gula pasir (saya pake 1 1/4 cup gula aren)
1 cup tepung beras
3/4 cup cokelat bubuk (pake 1/4 cup)
1/2 cup tepung ketan
1/4 cup tepung tapioka
2 sdt baking powder (pake 1 sdt)
1/2 sdt garam
1/2 sdt xanthan gum

Bahan basah, aduk jadi satu:

1 1/2 cup air kopi (pake 1 1/2 cup susu cokelat)
1/2 cup minyak sayur
2 butir telur ukuran besar (pake 1 telur antero, 2 kuning telur)
1 sdt ekstrak vanilla


Cara membuat:

Panaskan oven 180 C. Oles loyang bundt pan dengan mentega tipis-tipis, tabur tepung hingga rata. 
Campur bahan basah ke bahan kering, aduk cepat asal rata. 
Tuang ke loyang, panggang hingga matang sekitar 55 menit, lakukan tes tusuk.
Angkat, tunggu 10 menit sebelum mengeluarkannya dari loyang. Letakkan cake di rak kawat. 
Siram ganache atau taburi gula bubuk. 


Comments