Let’s Talk About M(i)e

Buat saya pribadi, Mie - sebagaimana hidangan utama lain - adalah salah satu makanan yang paling menantang untuk difoto. Hingga kini, Mie masih menjadi obyek favorit saya, salah satunya karena pertama kalinya saya menerima kritik luar biasa dari seseorang yang luar biasa adalah ketika pertama kalinya saya mengunggah foto Mie, fettucini tepatnya, di WFPP tema #noprops. Saya ingin sekali copas kritiknya di sini, namun apa daya akun instagramnya sudah dihapus, jadi komennya pun musnah tak bersisa. Eniwe, intinya, it was my wake up call. Saya seolah tersadar bahwa motrek makanan ga bisa seenak udelnya, ada aturan-aturan yang mesti dipatuhi untuk memaksimalkan fungsi foto (yaitu bikin ngiler). 


Foto fetucini di atas tertanggal 3 Februari 2015, waktu saya masih pake hape. Lucu ya fotonya? πŸ˜‚ Entah apa yang ada di pikiran saya waktu itu, kok ya bisa-bisanya fetucini ditaruh langsung di alas foto πŸ˜‚πŸ˜‚ banyak yang protes dong, rata-rata karena artistik tidak boleh mengalahkan fungsi. Foto semestinya replika kehidupan nyata: masa makan mie tanpa alas, kan kotor, jorok, aneh ah. Kalo konsepnya mie tumpah, mana wadahnya? Kenapa terlihat diatur sedemikian rupa? Cahaya masih keras, waktu itu belum kenal diffuser atau blocker. Styling, hmmm ga usah dibahas deh πŸ˜„



9 feb 2015
Kurang dari seminggu kemudian, 9 Februari 2015 tepatnya, saya mengulang konsep foto #wfppnoprops di atas, hanya kali ini menuruti saran dan kritik seseorang untuk mengambil gambar dengan teknik BEV, belajar blocking cahaya, serta memperbaiki styling yang ga asal gabruk aja: pertama-tama mie dicepol menggunung agar terlihat berdimensi, lalu beberapa helai dicerabut untuk memberi kesan messy, lalu menata topping (irisan cabe, tuna, daun basir, keju parmesan). Arah cahaya dari pukul 12 yang diblok, tapi disisakan sedikit yang mengarah langsung ke obyek. Karena konsepnya tanpa properti, maka butuh membuat foto yang moody nan dramatis agar pemirsa tidak bertanya-tanya mana piringnya, garpunya, dsb; tapi langsung memandang keindahan mie dan parkir di situ #eaaaa. Tepat di titik inilah saya berkenalan dengan Still Life. It doesn't have to be rational, you just have to make them alive. Meski kalo untuk still life, masih kurang dramatis sih ya, but hey, it was my first time! 😬




27 mei 2015


30 mei 2015


1 juni 2015


30 mei 2015
Empat foto di atas adalah setoran untuk #WFPPNOODLE dan ulangannya :D. Pertama kalinya motrek mie kuah dengan topping lengkap, dari sayur, lauk hingga kuahnya. Lihat kan, mie-nya sudah terlihat berdimensi, tapi toppingnya kedodoran, poached egg gagal, kuah yang tidak terlihat kaldunya, irisan tomat yang tidak terlihat kesegarannya, styling yang masih kaku dsb.


15 Juni 2015







Kalo dua foto di atas adalah foto yang saya kumpulkan untuk ikulan lomba foto mie. Cahaya flat, telur ceploknya tidak menyelerakan (ga ada pantulan cahaya di kuning telur, terlalu matang), styling kaku banget.



 


Dua foto di atas tertanggal 7 April 2016, pertama kalinya motrek mie mentah. Lumayan lah.


5 mei 2016
Sudah pernah motrek mie kuah, jadi lumayan pede lah motrek mie kuah lagi, meski komposisi terlihat sesak, tapi styling makanan udah oke: kuah terlihat kaldunya, topping ayam terlihat shiny, begitu juga dengan mie-nya.


14 juni 2016, Mie Buah Bit
 


Pertama kalinya bikin mie sendiri dengan pewarna dari buah bit, meski kurang merah dan sewaktu dimasak warnanya buyar, tapi cukup puas dengan hasilnya (baik foto maupun rasa).


17 juni 2016, Pad Thai
Foto ini untuk foto produk sebuah wajan yang mengendorse saya. Maunya styling ala-ala Donna Hay yang messy gitu, tapi gagal dong πŸ˜₯. Tantangan banget motrek Pad Thai dengan warna pucat yang isinya ada kecambah, bakso (berwarna pucat) dan udang. Taburan daun ketumbar, cabe kering dan kacang mete nya kebanyakan, jadi nutupi tekstur mie; terus lupa lagi irisan jeruk nipisnya.


Homemade Pasta
Fettucine Carbonara

Foto tertanggal 22 Juni ini pertama kalinya bikin pasta sendiri. Masalah utama di sini lighting yang flat!! PR banget kalo motrek pake props putih-putih 😭😭 Jelek, me dont like it.



Spaghetti
 Foto tanggal 6 November 2016 ini hasil endorse produk sosis. Simple, but i like this picture. Andai ada daun basil atau peterseli di situ kayaknya bisa bikin lebih hidup ya.
21 nov 2016
Kalo ini foto untuk mi instan yang jadi penyelamat anak kos ituuuuh. Komposisi dan styling aga kaku, lighting pun agak flat. Sejujurnya fotonya maksa, waktu itu saya baru ngelahirin (Z masih 2 bulan kurang). Pelajaran banget untuk ga memaksa diri sendiri nerima kerjaan saat kondisi ga memungkinkan. Untunglah klien oke-oke aja meski saya ga puas sama hasil fotonya πŸ™ˆπŸ™ˆ


16 des 2016
Ini pentingnya persiapan dan mengetahui karakteristik hero yang hendak dipotrek. Foto di atas adalah zoodle, alias zucchini noodle. Zucchini yang dirajang panjang seperti mie lalu dimasak. Karena belum pernah masak zucchini, nekad deh, eh ternyata waktu dimasak berair, huwaaaaa. Pas diangkat dan airnya dilap pake tisu, zucchininya udah letoy banget. Payah!


5 jan 2017
 Pertama kalinya motrek bihun. Karena tanpa pesiapan, jadi ambil properti seadanya sambil main matching-matchingan. Banyak kurangnya foto ini, dari ga ada cabe, topping yang kalah sama bihun, but I like it!


5 mei 2017
Bikin mie buah bit lagi, saat itu pindah spot ke dapur yang semi outdoor (selama ini motrek di ruang tamu). Eh ternyata cahayanya oke juga. Saya baru ini dapat cahaya yang terangnya oke untuk alas putih. Warna mie beserta toppingnya terlihat nyalak. Oke timunnya maksa, but this one is my favorite!


7 mei 2017
 Sejak punya buku Women's Weekly, saya jadi terpengaruh gayanya yang messy, vibrant dengan nuansa oldies yang kental (enamelware, rustic silverware tapi dg mood cerah ceria). Ini salah satu hasil contekan stylingnya menurut versi saya. Lighting aga flat, tapi saya suka dengan mie yang terlihat naturally effortless, kayak mak gedabruk gitu aja tapi masih terkontrol.


16 mei 2017
Foto mie terakhir ini dari endorse produk mie sehat. Buat menaikkan tantangan, dalam satu frame saya bikin mie kuah dan mie goreng dengan topping yang berbeda. Ribetttt, but i love it!

Karena dapat mie yg warnanya bluwek, jd ngerencanain topping warna-warni untuk ngangkat mie. Begini persiapannya:
1. Siapin props, tes cahaya
2. Masak Mie: a. Rebus rebus jagung n jamur sambil motong cabe, kompor satunya rebus telur
b. Jagung & jamur ☑, rebus mie utk mie kuah (kuahnya ga dipake ya), kompor satunya goreng bawang goreng, lalu ayam. c. Mie utk mie kuah ☑, lanjut rebus buat mi goreng, ayam udah matang, kompornya ganti rebus air (buat kuah)
3. Plating mie goreng n kuah 
4. Motrek, utak atik komposisi, cahaya (apa perlu diffuser, blocker, reflektor)
5. Poin e  oke, baru nyiram kuah ke mangkok utk mie kuah
6. Last touch: oles minyak ke mie, jamur, cabe n jagung agar shiny n kliatan fresh 
7. Jepret berbagai angle

8.  Z udah nangis geruh2 dicuekin dari tadi πŸ˜‚πŸ˜‚

Kesimpulannya, as cliche as it sounds, practice makes perfect. Skill is like muscles, the more you train, the stronger they are.  Foto mie saya masih jauh dari sempurna, tapi semakin lama saya semakin tahu apa yang kurang dari foto saya, ga se-clueless waktu pertama kali motrek mie 2 tahun lalu. Motrek mie juga udah ga selama dulu. Ingat kan kalo persiapan adalah setengah dari kesuksesan, jadi persiapan saya jauh lebih matang (dari  nentuin konsep, nyiapin properti, menghias topping, menata mie, dsb). But again, at the end of the day, your feeling is the matter at the most. Ga peduli orang kata apa soal fotomu, as long as you like it, YOU WIN!!! 

Comments