Saturday, May 27, 2017

Hiatus


Membahas tentang pro kontra media sosial memang tidak akan ada habisnya, terutama di masa sekarang saat masih terasa hangat gegar gempita pilgub Jakarta yang bikin beranda fesbuk jadi medan perang. Di satu sisi, media sosial memang menjadi senjata ampuh untuk menyebarkan pesan (berantai). Sekali klik, sebuah informasi yang belum tentu benar mampu menjalar tanpa arah, tanpa saring; kecuali kita sendiri yang mau bersusah payah memilih dan memilah sambil menelusuri kebenarannya. Teman jadi lawan. Sodara jadi musuh gara-gara beda pendapat, nilai, golongan.

Sedangkan dari sisi antropologis, perangkat teknologi yang memuat media sosial ini begitu kuatnya hingga mengubah cara hidup kita. Ponsel (beserta wifi) serupa udara yang kita hirup, yang kita tak mampu hidup tanpanya. Dari bangun tidur, makan, mengasuh anak, masak, berjalan, di kendaraan sampai di toiletpun; ponsel selalu di genggaman. Kita lebih bingung kehabisan baterai atau kehabisan paket data atau tak memiliki jangkauan wifi daripada ketinggalan dompet.

Dan di titik inilah saya capek.

Sejujurnya di balik sisi kelam sosmed di atas, tak bisa dipungkiri betapa sosmed juga berpengaruh positif di kehidupan. Lewat Instagram, saya menemukan salah satu passion saya: motrek makanan. Lalu hobi itu bergulir semakin besar bagai bola salju: bertemu dan berteman dengan orang-orang yang sangat menginspirasi, meningkatkan kegemaran akan masak dan baking (termasuk ngumpulin properti foto) hingga beberapa kali mendapatkan duit karena diendorse, menang kuis atau jadi buzzer sebuah produk makanan. It was so much fun, indeed.

Tapi kembali ke paragraf di atas, tanpa sadar tiga tahun terakhir ini saya semakin banyak menghabiskan waktu untuk memotrek dan instagraman. I build my life in instragam, but I forgot my real life. Gambar di Instagram adalah imaji yang saya bangun, suasana yang ingin saya tunjukkan; meski pada kenyataannya sangat berbeda (my picture is not my real life). Wait, when I write virtual vs real life, I don’t mean to talk about art stuffs (artist’ imagination to escape vs create reality until philosophy stuffs like Baudrillard’s (confusing) simulacrum).

Begini, sebagai manusia kita punya fundamental need to seek for acceptance and affirmation. We always hunger for positive confirmation of everything we do. We wanted to be accepted, we wanted our works to be accepted. But sadly, in social media, the confirmation comes from numbers. Semakin banyak jumlah followers, semakin banyak jumlah like, maka semakin tervalidasi keakuan kita (aduh jadi inget lagunya mas Anang dan mbak KD ….cermin sikapmu yang mampu memendam rasaaaaa… keakuanku….). (Efek lanjutannya sih, kebanyakan, makin banyak jumlah followers, makin besar pengaruh kita, dus makin banyak sponsor/endorsement berdatangan). Again, it was fun. To have a power. To voice our mind (sah sah aja nyelipin pesan pribadi/sponsor di caption). To share. To know that some people follow, recook, rebake, inspired by our account/pictures/captions.

Sampai sebagian besar waktu tersita gara-gara Instagram. Dudududududududu. Bocah merengek minta makan, emaknya masih sibuk motrekin makanan setengah matang (biar warna dan teksturnya kelihatan cakep). Atau sudah matang, tapi waktu disajikan ke keluarga udah pada dingin dan letoy (#sorrynosorry hun :P). Udah janji bikin ayam kentaki rikues bocah tapi putar haluan masak ayam bumbu rujak gara-gara mau nyocokin menu nasi kuning yang santannya dari sponsor. Berkali-kali absen bacain buku karena sibuk motrek. Berkali-kali kecapekan ga ngantar bocah ngaji (yang tentu saja bocahnya kesenengan). Berkali-kali cuma jawab singkat Hmmm, Iya, Iya tah, Oke, Hmmmm saat diajak ngobrol bocah gara-gara kepala emaknya nunduk terus sibuk komen-komenan di Instagram. 
Berkali-kali beli ini itu gegara fotojenik, tapi habis difoto, masuk kulkas sampe rusak dan akhirnya kebuang (mubazirrrr!!!!). Beberapa kali ngotot bikin ini itu demi difoto padahal juga ga ada yang makan pfffffttt. Berkali-kali ga nepati janji ke bocah gara-gara sibuk motrek, sibuk instagraman. Rumah berantakan karena habis masak dan motrek ga langsung dirapihin, malah ndahuluin nginstagram dududududududu. Berkali-kali duit belanja kurang karena beli props ooooops :D. Dan setelah dipikir-pikir, dengan betapa pengertiannya suami dan bocah, saya ngerasa ga adil…

It’s not fair to defend taking picture and Instagram as my me time while I forget my duty as wife and mother. It’s not fair to ban my son from smartphone while his mom keep on playing Instagram. It’s not fair to think over my picture, the styling and composition, what will I bake/cook tomorrow, arrange sentence to make caption; while I was spending time with my family. It’s not fair that I should have done more useful things to do (like reciting Quran, talking to neighbor, calling my mom, teaching my son, telling stories to my daughter, chatting with husband, take a really long bath, sports, writing, etc) than surfing on Instagram. It’s just not fair that somehow, slowly, Instagram has took over my life.

Saya memang ga stand by 24 jam di Instagram, ngelike dan komen foto teman-teman (bahkan balesin komen di foto saya sendiri aja jarang). Tapi untuk saat ini saya ngerasa udah overload, I need to be more focus on my real life than the virtual I built in Instagram. Gile cuyyy, 2 bocah masih balitaaaaa. Cant deny that Instagram gave me a lot. It was my outlet of my works. I find and make friends from it. I earn money from Instagram, too. But I guess I am not ready for Instagram, not right now. Maybe later, when I’m no longer a hero for my kids. But now, what my kids need is their mother, not only physically, but also mentally, psychologically, wholeheartedly.

So by this, I rest my case.

I’ll see you, not very soon, Instagram.

Dan kepada teman-teman semua, terima kasih untuk pertemanan indah selama ini. Semoga kita tetap lanjut silaturahim di luar IG *hugs


No comments:

Post a Comment