In English



Tiga minggu sudah menyimpan kamera di dalam kardusnya, lalu mengepak kayu-kayu palet dan menaruhnya di sudut belakang rumah. Tak lupa menata rapi aneka properti foto berdasarkan jenisnya: yang kayu-kayuan, gerabah dan keramik lebar besar di lemari bawah; sedangkan keramik-keramik kecil di lemari atas. Tripod yang sudah patah itu juga telah tenang di pojokan lemari menanti masa pensiunnya. Dengan ini, saya 90 persen meninggalkan dunia FP yang saya geluti 2 tahun terakhir. Akan menjadi 100 persen saat saya tak lagi mengaktifkan aneka media sosial, terutama instagram untuk tenggelam ke dalam kesibukan baru menyambut jabang bayi. 

Dan 3 minggu penuh kegaringan karena ga boleh masak-motrek-baking sama suami akibat kontraksi awal yang cukup lama dan menyiksa dan bikin parno; garing dan bosan adalah kata yang tepat untuk menjabarkan kondisi saya akhir-akhir ini. Beruntung saya sempat mengunduh wattpad dan nyasar di Storms and Silence, sebuah karya fiksi abad 19 di Inggris hasil karya Rob Thier. And yeah, I spend my time reading this hilarious, incredibly wit and funny romance book. 

Baca novel berbahasa Inggris itu alamak bikin mual, terutama kalo novelnya sastra klasik seperti Lolita (sorry Nobokov, I've never finished your masterpiece due to my lack of ability in absorbing your irrevocably poetic language) atau Anna Karenina-nya Tolstoy yang dari dua tahun lalu masih saja di halaman belum 200. I do love historic novel! They bring some idyllic atmosphere where we can play our imagination on how our ancestor live their simply complicated life when modern technology is something out of their mind. 

Anyway, yang bikin suka banget sama Storm and Silence (dan sekuelnya In The Eye Of The Storms) adalah: setting novel ini berada di tahun 1800an saat wanita-wanita Inggris masih memakai baju dengan korset dan kurungan dari kawat untuk roknya. Lalu yang makin bikin kepincut adalah, Lilly Linton, sang protagonis di cerita ini adalah seorang sufragis! Hell yeah! Emang sufragis itu apaan sih? To put it in simple definition, sufragis adalah orang-orang yang menuntut persamaan hak laki-laki dan perempuan di saat kondisi sosial, politik, ekonomi dan budaya masyarakat saat itu yang masih sangat patriarkis-misoginis. Misalnya nih, pada tahun 1800an, perempuan tidak memiliki hak pilih politik karena diyakini bahwa otak perempuan tidak lebih baik dari otak simpanse dan perempuan terlalu labil kondisi psikologisnya untuk mampu menanggung tugas mulia sebagai pengambil kebijakan politik suatu negara. Hak-hak dasar seperti inilah yang dituntut oleh kaum sufragis, termasuk Lilly Linton sejak di awal bab Storm and Silence saat ia berpura-pura sebagai laki-laki agar bisa masuk ke bilik pemilihan umum... dan tentu saja berakhir tragis saat ia ketahuan dan dimasukkan ke penjara. 

Masih ada banyak "jiwa feminis" Lily Linton di setiap hembusan nafas novel ini #halah. Seperti bagaimana ia harus terus berpura-pura sebagai laki-laki demi bisa bekerja di perusahaan raksasa milik Rikkard Ambrose. Kenapa mesti berpura-pura? Karena pada jaman itu, lagi-lagi, perempuan tidak diijinkan untuk bekerja di sektor publik. Tugas perempuan ya hanya masak, manak, macak. Sekolah ga cukup tinggi-tinggi, asal bisa baca tulis lalu diwajibkan pintar berdansa, menjahit, berkebun, memasak agar bisa dapat suami. Lalalalalala. Kesemua hal itu yang ditolak Lily mentah-mentah, life isn't only about chasing wealthy prince charming, lads!

Yang bikin gabisa berhenti lagi, Sir Rob (sebutan Rob Thier sang pengarang) adalah seorang mahasiswa sejarah di kehidupan nyata, sehingga meski ceritanya hanya fiksi belaka, namun beliau menggambarkan setting novelnya berdasarkan fakta sejarah waktu itu. Misalnya di buku ketiga Silence is Golden dibukan dengan Lily and the gank yang disidang karena ketahuan bersepeda (iya bersepeda!!!). Jadi saat itu perempuan dilarang bersepeda karena gerakan mengayuh yang tidak sopan dan beresiko memperlihatkan kaki mereka (kaki perempuan disebut sebagai unmentionables, intinya aurat gitu); sedangkan celana hanya diperuntukkan untuk laki-laki. Nah loh, bingung kaaaan...

Teruuus, selain cerita yang menarik, lucu dan cerdas; bahasa yang digunakan itulohhhh, gampang banget dicerna meski kadang pake istilah-istilah ga umum dan british banget. Kalo menurut saya sih, novelnya Sir Rob ini bahasanya di bawah novel sastra klasik tapi jauh di atas novel chicklit masa kini. Ahhh, coba baca deh, Storm and Silence series is definitely my most favorite book on wattpad!

Oke prolognya udah selesai. Aslinya bingung mau nulis apa setelah 3 bulan lebih ga ngeblog. Back to recipes. Karena temanya English, resepnya tentang English Breakfast aja yah, semacam pancake dan waffle gitu. Sarapan keminggris gini paling enak, nyiapinnya bisa malam sebelumnya, pagi tinggal ngangetin dan nyeprotin aneka selai, buah-buahan, olesan dsb. Cukup lah buah pengganjal perut sebelum nasi pecel atau bubur ayam di jam 8 pagi huahahhahha. 





Waffles
Sumber: mrbreakfast

Bahan:
1 ¾ cup tepung serbaguna
2 sdt baking powder
1 sdm gula pasir
½ sdt garam
3 kuning telur, kocok lepas
1 ¾ cup susu cair
½ cup minyak sayur
3 putih telur, kocok kaku

Cara membuat:
Panaskan cetakan waffle dengan api kecil.
Campur semua bahan kering.
Campur kuning telur dan susu, tuang ke dalam bahan kering.
Masukkan minyak, aduk rata.
Perlahan masukkan putih telur, aduk balik (jangan over mix).
Pastikan cetakan waffle telah panas (saat adonan dituang akan berbunyi cesss)
Tuang 1 sendok sayur ke tengah cetakan waffle, tutup. Masak selama kurang lebih 4 menit, balik cetakan, masak sisi satunya selama 2 menit.
Angkat, dinginkan di rak kawat.
Sajikan dengan, apapun!


Catatan: Selain untuk waffle, saya juga pake resep ini untuk bikin pancake. Yang bikin malesin emang ngocok telurnya 2 kali, tapi worth to try, bukan tanpa alasan putih telur dikocok sendiri karena itu yang bikin wafflenya fluffy di dalam tapi renyah di luar.


Selain sarapan pake waffle atau pancake, salah satu sarapan paling gampang (atau dijadiin bekal bocah) ya ini. Bikinnya sambil merem pun bisa. Tinggal panasin mentega di pan buat manggang roti dan sosis dan nyeplok telur. Lalu blansir brokoli. Lalu tambah mayones buat cocolan. Lalu tambah aneka buah potong. Lalu tinggal hap deh!

Comments