Sunday, January 3, 2016

Masih Tentang Properti: Fungsi


Masih inget tulisan TentangProperti ini kan? Di situ saya berargumen bahwa berbeda dengan genre still life yang lebih luas, Food Photography (yang termasuk still life juga) memiliki batasan-batasan dalam penggunaan properti. Misalnya, wadahnya sop ya mangkok dong, bukan jerigen. Nah masih tentang properti, sekarang ekeh mau membahas memang sejauh mana sih peran properti di dalam Food Photography?

Pernah merhatiin ga iklan spaghetti di tv atau di media cetak? Pernah ga mempertanyakan  kenapa di samping spaghetti selalu ada garpu, bukan sumpit? Sebaliknya di foto-foto/iklan ramen, soba, atau mie Vietnam Pho selalu nangkring sumpit dan bukan garpu? Toh pada dasarnya mau soba, spaghetti, fetucini sampe mie basah termasuk ke dalam famili mie (olahan tepung yang dibentuk panjang-panjang).

Yup, inilah salah satu peran utama properti (selain sebagai alat bantu makanan, entah membantu mewadahi atau membantu cara makan), yaitu sebagai identitas. Pemakaian sumpit mencirikan bahwa makanan tersebut berasal atau terpengaruh dari Asia Timur. Sebaliknya, garpu menandakan masakan Barat. Jadi bila ada spaghetti disandingkan dengan sumpit, bisa jadi itu adalah fusion spaghetti yang menggunakan salah satu elemen khas Asia Timur (yang kemungkinan sih bumbunya).

Atau misalnya seperti masakan daerah Indonesia, sebagian besar justru tidak menggunakan alat makan karena budaya makan Indonesia menggunakan tangan langsung (muluk). Sehingga penambahan mangkok berisi air sebagai kobokan lebih mengena untuk lalapan daripada sendok garpu.

Loh loh, emang siapa yang menetapkan peraturan bahwa spaghetti harus pake garpu, ramen pake sumpit atau lalapan mesti pake tangan? Norma jawabannya. Norma adalah seperangkat aturan tak tertulis (kesepakatan sosial) masyarakat/bangsa tertentu. Ga dosa dan ga melanggar hukum kalo makan spageti pake sumpit (atau makan kastengel pake garpu ehem potonya siapa yaaaa dududududu), tapi norma yang berlaku saat ini tidak mengajarkan demikian. Dan siapa yang melanggar norma, tidak akan dosa atau masuk penjara, tapi kemungkinannya akan dicap nyeleneh, aneh, eksentrik, dsb. Dan di dalam Food Photography, table manner termasuk norma yang mesti ditaati.  

Yang kedua, properti berfungsi sebagai penanda (siginifier) atas petanda (signified). Roland Barthes, bapak Semiotika (ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda) menyatakan bahwa segala jenis gambar selalu mengandung signifier dan signified. Bila signifier adalah apa yang bisa ditangkap mata (benda-benda/properti), maka signified adalah pesan yang ingin disampaikan melalui pemakain benda-benda tersebut. Bingung? Nih saya kasi foto lalapan.


Ayam goreng di wadah anyaman bambu yang dialasi daun pisang ditemani sambal terasi di wadah gerabah. Di sekitarnya terdapat wadah nasi yang terbuat dari anyaman bambu, air kobokan, anyaman bambu untuk wadah sayur lalapan, serta serbet batik. Pada fungsi identitas, penggunaan gerabah, bambu, daun pisang dan batik adalah clue bagi audience luar bahwa makanan tersebut berasal dari Asia Tenggara (Indonesia tepatnya).

Sedangkan menurut semiotika, penggunaan properti tersebut (daun pisang, gerabah, anyaman bambu, batik: signifier), audience bisa menangkap kesan (signified) Indonesia yang tradisional, hangat bersahabat, etnik, dan membumi. Coba bayangkan bila lalapan tersebut difoto dengan konsep minimalis, dengan menggunakan piring putih dan sendok garpu. Maka akan menghasilkan signified yang berbeda, yakni kesan bersih dan modern.

Tunggu, jadi kalo begitu apakah masakan Indonesia wajib difoto dengan aneka tetek bengek gerabah, daun pisang, anyaman bambu atau rotan, batok kelapa, batik serta dengan penggunaan warna-warna tanah untuk menguatkan kesan keIndonesiaan? Gimana dengan foto di bawah ini?

Foto milik Yang Tersempel Shanti
Untuk yang jeli, tekonya adalah teko khas Maroko, cangkirnya cangkir khas Turki (errr atau Jerman ya?), nampannya adalah kuningan asal Jawa, sedangkan item-item yang dibalut parutan kelapa itu bukan Lamington Cakes asal Australia, tapi ongol-ongol, panganan berbahan singkong asal Indonesia. Audience yang melihat gambar di atas bisa-bisa pusing pala berbi karena sibuk menerka makanan apa itu, apakah jajanan khas Timur Tengah? Tapi ada pandan, pandan berasal dari wilayah Asia Tenggara. Foto milik La_Binar tersebut kemungkinan besar menyesatkan audience bila tidak ditemani dengan keterangan. Kesimpulannya, seringkali gambar tidak bisa berbicara sendiri.

Kembali ke norma Food Photography, apakah dengan begitu penggunaan properti nyeleneh yang tidak sesuai seperti foto ongol-ongol di atas (atau foto kastengel dengan garpu milik Fiephan) bisa dibenarkan atas nama kreativitas dalam Food Photography?

Lara Ferroni membagi Food Photography ke dalam 4 mahzab besar: produk, komersil, editorial dan blogging. Foto produk dan komersil menekankan pada food as information itself, what we see is what we get. Kalo iklan cireng ya foto cireng yang memenuhi lebih dari 50 persen frame. Karena itu foto produk atau komersil selalu mengekspos hero sedemikian rupa, close up, terlihat sempurna tanpa cacat, dan jarang dipenuhi aneka properti yang rame, cmiiw. Hal ini sesuai dengan tujuan foto produk dan komersil, menggaet pelanggan sebanyak-banyaknya agar tertarik dan membeli produk tersebut. Nah kalo iklan cireng tapi fotonya kanji, air, bawang, gula merah, cabe, garam, ulekan dan serbet; apa audience ga terbengong-bengong itu iklan cireng atau foto mau rujakan?

Berbeda dengan mahzab advertorial dan blogging yang lebih longgar. Fotografer/stylist memiliki ruang seluas-luasnya untuk menunjukkan kreativitasnya serta ketidaksempurnaannya. Tujuannya untuk membuat makanan terlihat nyata (bukan sempurna), bisa dibikin oleh siapapun dan sebagai curahan mood sang fotografer. Maka dari itu, ada ambience/nuansa yang dibangun lewat permainan cahaya, properti, styling yang seringkali sangat personal. Hingga remah-remah kue pun menjadi aksentuasi yang menguatkan arti homemade. Pada foto advertorial dan blogging, foto seringkali tidak bicara sendiri. Ada pengantar dari redaksi, keterangan atau caption dari pemilik foto yang menjelaskan tentang suasana di dalam foto tsb, jenis makanan, dsb.

Karena itu, kembali ke pertanyaan di manakah letak ruang kreativitas di dalam FP? Jawabannya kira-kira tergantung pada mahzab apa dulu. Untuk foto produk dan komersil, jawabannya jelas. Foto sebisa mungkin berisi informasi yang lebih dari cukup sehingga tidak memerlukan tambahan keterangan. Properti berfungsi sebagaimana mestinya. Table manner dijunjung tinggi. Contohnya iklan spaghetti, selalu memakai garpu, bukan sumpit. Iklan air minum ya ditaruh di botol aslinya atau di gelas. Ga ada cerita iklan air minum, airnya ditaruh di gayung.

bandroffle alias bandros waffle
Sebaliknya untuk foto advertorial dan blogging, pemilihan properti (dan bahkan bentuk/penampakan makanan itu sendiri) justru menjadi ajang kreativitas fotografer/food stylist. Di sini, fungsi properti sebagai identitas dan signified/signifier jadi kabur. Norma dan aneka pakem bebas ditabrak untuk menyampaikan sudut pandang/keinginan fotografer/food stylist. Mau motrek nasi pecel beralaskan tier kaca hayuk ajah. Mau motrek bandros yang dicetak ala waffle juga sah-sah aja #pembelaan. Dengan catatan, ada keterangan di setiap foto tersebut untuk memandu audience agar tidak tersesat. Etapi tanpa keterangan pun juga sah, bila tujuannya untuk memancing audience agar penasaran. Meski begitu, apapun mahzabnya perlu diingat bahwa lagi-lagi tujuan Food Photography adalah drooling factor ya, jadi mau mengolah properti seperti apa saja, bila fotomu ga bikin ngiler ya…gitu deh… *sambilngaca*

Anyway, saat lagi nulis ini saya jadi mengamini kata beberapa teman food photographer yang bilang bahwa FP adalah salah satu genre paling sulit di fotografi. Kita tidak cuma membuat makanan terlihat tempting dan mouthwatering, tapi ada pesan di balik itu semua. Setiap foto yang kita jepret merupakan representasi identitas, nilai, prinsip, adat istiadat, budaya bahkan kepribadian kita. Sehingga pemahaman mengenai itu semua wajib kita miliki. Our food picture is the ambassador of who we are, our culture, our country and ourselves as well. Jadi kalo liat seorang fotografer pake properti serba vintej nan kuno, kira-kira kepribadiannya yah macam nenek kita lah, sangat terampil, telaten dan penyayang. Kalo ada yang selalu pake properti limited edition dari designer dunia dengan harga yang bikin kita nangis, yah kira-kira beliau high class gitu lah ya. Nah kalo kayak kita yang pake piring sango sisa ekspor dan serbet putih ikea sepuluh ribuan kira-kira apa coba? Muahahahahaha… *bersatulah kaum jelata!!!*

So, sebagai penutup pembahasan mengenai properti ini, bila lighting berperan penting untuk menyampaikan mood, styling dan komposisi sebagai pencipta keindahan foto, maka properti berfungsi sebagai penguat cerita. That’s why, selalu ada alasan untuk ngintip properti di sini dong *mengandung pesan sponsor *diulegramerame



2 comments:

  1. Muahahaa...dateng2 ketawa. Lama nggak liat Mba Kiki di 52wfpp, sampe niat stalking dan akhirnya ngeklik link di bio. Pas bgt aku lagi (mau) belajar FP. Sering2 share ilmunya ya Kakaaak..eh iya, salam kenal. Doakan semoga eike segera belanja😁✌

    ReplyDelete
  2. Muahahaa...dateng2 ketawa. Lama nggak liat Mba Kiki di 52wfpp, sampe niat stalking dan akhirnya ngeklik link di bio. Pas bgt aku lagi (mau) belajar FP. Sering2 share ilmunya ya Kakaaak..eh iya, salam kenal. Doakan semoga eike segera belanja😁✌

    ReplyDelete