2015.



Melihat kolase bestnine bertebaran di instagram membuat saya terpekur, betapa waktu begitu cepat berlalu. Tanpa sadar tahun 1990 – saat kita masih main bongkar pasang dan umbulan – adalah 25 tahun lalu. Dan kurang dari 15 tahun untuk ke 2030. Waktu. Yang selalu bersama kita namun tak pernah mampu kita kuasai.

Masih teringat jelas tengah malam sepuluh tahun lalu, saat ketua UKM pers Tegalboto membawa Nikon D70 seharga 7 juta, generasi slr pertama yang friendly user dan relatif terjangkau kala itu. Dia adalah teman yang pertama kali memiliki kamera slr, sedangkan saat itu kami masih berkutat dengan roll film dan cara membuat kamera lubang jarum. Saya membatin malam itu, suatu hari nanti pasti akan memiliki kamera slr.

10 tahun kemudian seseorang yang enggan disebut namanya - tapi tetap akan saya sebut sebagai Henny Marlina - datang dalam hidup saya, dan mewujudkan mimpi itu. Dari beliaulah saya mendapatkan kamera Canon d1000 dan membuat saya semakin tertarik ke dunia fotografi, terutama fotografi makanan. My photography passion wouldn’t grow this big if it’s not because of her. Not to say that camera phone is bad, for a full year I was using camera phone to capture foods. Tapi gadget yang lebih mumpuni membuat banyak hal menjadi lebih mudah, dan indah. Thanks her for trusting her first dslr to be mine, and I promise her to keep this weapon carefully.

Ga bisa dipungkiri bahwa selama setahun terakhir ini perhatian saya begitu banyak tersedot ke Food Photography. Motrek yang pada awalnya hanya in the name of existence, no matter how bad the quality are, semakin lama semakin niat. Dari mikirin konsep foto, melatih kepekaan cahaya rumah untuk mendapatkan mood yang diinginkan, sampai terjebak pada properties madness huahahaha. Yang terakhir ini, I guess I’m in the phase of addiction, terutama buat barang-barang pintej. Kalo dihitung-hitung, sejak La_Binar meracuni di bulan Juli, dalam 6 bulan terakhir ini saya memiliki lebih dari 100 peralatan makan (berbagai ukuran dan bahan sendok, garpu, pisau dll). Belum lagi aneka cetakan kuningan, mangkok, piring, gelas, nampan, dsb. Memotrek makanan (dan properti) menjadi rutinitas setiap hari. Dan justru di situlah letak kegamangan saya beberapa hari terakhir ini.

Do I really want to be a food photographer? Errrr…..

I don’t think so.

Well maybe.

I don’t know.

Jujur saya ga tau jawabannya. I really like taking photographs, but I’m not really into the business. Ok, this sentence has a deep contradictions since I sell food photography properties on Instagram, muahahaha *selfkeplak*.

Begini.

I love instagram. Saya banyak dapat ilmu fotografi dan teman dari instagram and I couldn’t ask for more but thankful. But at some points, I just feel that social media do not give us time to take some rest. Kita dibombardir dengan limpahan arus informasi dan gambar setiap detiknya, terutama, apalagi kalo kita follow banyak akun. They are wide awake 24 hours a week, every single day, minute and second there will always a new picture from somebody somewhere, it’s just too crowded but highly addictive at the same time.

Iya iya saya tahu kalo semua tergantung usernya, apakah mau mantengin socmed dan terjebak di dalamnya seharian atau cuma ngecek sesekali. But once again, I don’t know…

I don’t classify myself as socmed freaks who tune into socmed all day long. But I have to admit that I no longer can live without it. Every single day, the first thing comes into my mind is check my account. In the middle of doing something, I check them. When I’m doing nothing, I off course check them and could spend hours just to checking, uploading then giving comments. Technology has rooted in our life so deep, and I hate when it slowly but surely control our life.

Silence fertilizes the imagination


Couple days ago when I’m surfing thru feeds, I stuck on brainpicker twitter account. The tweet are short, yet hit me deep inside. Silence fertilizes the imagination.

Kapan terakhir kali kita benar-benar sendirian tanpa melakukan apa-apa? Kemungkinan besar saat baterei hape habis dan listrik lagi mati atau ga ada jaringan wifi. Lalu kita pun pasti ngedumel sambil  mengutip kata Hedy Lamarr “I can excuse anything but boredom”. 

Menjadi manusia yang hidup di era digital seperti ini, wifi memuncaki piramida kebutuhan primer. Mau masak, gugling resep. Mau motrek buka pinterest. Mau nyapa teman buka instagram. Lagi hengot buka path. Mau curcol buka facebook dan twitter. Mau nonton buka youtube. Mau makan motrek dulu terus aplod. Mau keluar rumah, motrek OOTD. Habis belanja, aplod foto haul. Mau nonton gugling review film. Lagi reunian sama sahabat, yang ketemu cuma fisik tapi isi kepala tertuju ke gadget masing2. Bahkan di rumah lagi main sama anak sambil chatting di line. Nonton bareng suami sambil update status fesbuk. Sadar ga betapa kita sangat tergantung ke media sosial dan betapa kita tidak pernah dibiarkan “diam”?

Padahal, begitu banyak karya-karya besar dunia lahir dari kesenyapan. Pramoedya Ananta Toer merampungkan Tetralogi Pulau Buru dan beberapa karya lainnya saat di pengasingan. Kartini yang tidak memiliki akses ke dunia sosial dan intelektual masa itu menulis Habis Gelap Terbitlah Terang dan surat-surat korespondensinya. Kondisi JK Rowling yang terpuruk dan depresi menjadi cambuk untuk menulis Harry Potter. Don Quixote mahakarya Miguel de Cervantes lahir dari sudut terali besi di Madrid. Tafsir Al Azhar ditulis Hamka saat dipenjara Orde Baru. Ketiadaan fasilitas dan keterputusan dari dunia sosial justru menyuburkan pemikiran dan imajinasi mereka.

Oke oke kita bisa membuat alasan kalo jaman kita beda, tantangan beda lah cuy. Ga perlu ndakik-ndakik mbandingin sama sastrawan dunia lah ya. Tapi apa iya dengan ngapdet status dan foto setiap hari akan membuat diri kita jadi lebih baik? Apa iya dengan tahu diskon akhir tahun Fujifilm, ngaplod foto hasil baking sampe memergoki Teddyphotos yang lagi hiatus ternyata ngelike foto anjing milik Stuart akan sedemikian penting bagi eksistensi kita di semesta raya ini? Apa iya dengan difollow ribuan orang, foto kita dilike sampe ratusan, pujian mampir setiap menit, endorsement datang bertubi-tubi berbanding lurus dengan hablum minannas kita di dunia nyata? Kita menyelamati seorang teman yang berjarak ratusan mil dari kita, tanpa pernah tau seorang tetangga sebelah rumah sedang sakit keras. Kita berpanjang-panjang bikin caption tentang hari ibu, tapi ga pernah tahu kalo ibuk di kampung sedang bingung rumahnya bocor. Teman bertambah secara kuantitas, tapi apa iya secara kualitas? Apa dengan bertambahnya teman maya kita, bertambah pula kepedulian kita ke saudara dan tetangga kita? Atau justru kita terlalu sibuk membangun diri di dunia maya sampai kita ga tau si fulan sedang kesusahan, si fulan meninggal, ipar lagi terlilit hutang, adik lagi patah hati, dsb dsb.

Isn’t it scary that strangers know you better than your beloved? Kita mengumbar sedang apa, mikirin apa, makan apa, anaknya lagi apa setiap saat, setiap waktu di socmed. Tapi bahkan kita ga tau apa masalah yang dihadapi suami. Isn’t it scary that everybody knows about us, tapi suami kita sendiri gtau apa yg kita pikirkan? Isn’t it scary kalo kita curhat di layar ngomongin dari anak rewel, pengen ini itulah, suami begini begitulah, dan setiap permasalahan rumah tangga; tapi sebaliknya, orang yang tinggal bersama kita malah gtau apa-apa tentang kita? Isn’t it scary?

Life is not what happens in screens and feeds. And I’m afraid I’ve been living my life in social media rather than in real life. I’m afraid I’m getting in to socmed deeper than I thought and leaving my real life in mess, neglecting my family’s need and experiencing everything in cyber space rather than in reality. I am afraid that I don’t have power to balance between the cyber social life and the real one.

By writing this, I know that most of you will not agree with me and it’s fine. We are living different life, so we perceive life differently. Ada yang memperlakukan medsos sebagai mata pencaharian, ladang amal, tempat berbagi ilmu, berbagi resep, sampai ajang eksistensi. Dan itu sah, lha wong akun akunmu kok. Ga suka tinggal unfollow, gitu aja toh. Tulisan ini sekedar pengingat pribadi, bahwa saat ini, di titik ini, saya sedang sangat ingin menjalani hidup tanpa riuh rendah media sosial dan lebih banyak menyesapi kesenyapan. But as usual, entah keinginan ini bisa bertahan berapa lama. Bisa jadi beberapa bulan berikutnya, atau sangat mungkin terjadi hanya 1-2 hari ke depan….huahahahaha

Quote diambil dari google, ga nemu penulis aslinya :(

Comments

  1. Cuy, eke rada giclek nih, Hamka bikin tafsirnya jaman orde baru apa orde lama yah? Bukannya jaman soekarno? *amnesia aku T_T

    ReplyDelete
  2. cuy, aku baca ini semakin membulatkan tekat pen deaktip pesbuk (lagi).. but, don't know when...bwakakakaka...

    ReplyDelete

Post a Comment