Friday, December 25, 2015

Sapi Menek Pring


Sekitar tahun 1990-an, kuliner di kota Malang berpusat di daerah mall dan pertokoan paling ngehits kala itu, yakni Mitra, Gajahmada Plaza, Variety dan disusul Matahari yang berjajar di sekitar Jl KH Agus Salim sampai Jl Pasar Besar. Warung-warung yang saat ini dibilang legendaris berkumpul di daerah tersebut, seperti Warung Nguling, Warung Lama, Warung Brintik, Pangsit Hok Lay, Dragon Phoenix, Mie Gloria, sampai Warung Bu Yun. Yang terakhir disebut barangkali tak dikenal saat ini. Maklum Warung Bu Yun yang berjarak sekitar 2-3 toko dari Hok Lay di jl Kh Ahmad Dahlan sudah tutup bertahun lalu (terakhir kali berpindah ke daerah Kauman, dan sekarang kabarnya ada di dalam Pasar Besar).

Berbeda dari Warung Nguling yang terlihat modern dan lebih wah di tahun 1990-an, warung Bu Yun terbilang sangat sederhana. Menempati ruangan 3x6 meter dengan bangku kayu tua mengelilingi stall yang berisi aneka masakan Jawa, berdirilah Bu Yun bersama beberapa pegawainya yang sibuk melayani pembeli. Dapur ngebulnya ada di rumah belakang, tempat tungku besar berbahan bakar arang dan batok kelapa selalu mengepul.

Sejak pukul 6 pagi, deretan mobil dan sepeda motor sudah mengantri di depan warung sampai hampir sepanjang jalan Ahmad Dahlan. Belum waktunya makan siang, sudah dipastikan lebih dari separuh menu telah ludes. Iya, seramai dan seenak itu masakan di warung Bu Haji.

Ibu Yun sendiri, seorang wanita paruh baya dengan perawakan subur dan ngecepres. Suaranya melengking cemprang, tapi dari nadanya semua pelanggan tau bahwa beliau sangat ramah. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Apalagi saat ia menjawab pesanan pengunjung. Ada bahasa-bahasa khusus yang hanya dimengerti Bu Yun, pegawainya dan pelanggan setia. Lewat kode-kode unik tersebut, tanpa sadar pelanggan disuguhi pertunjukan serupa ludruk yang mbanyol.


Bagaimana tidak bikin ketawa, menyebut sate komoh, Bu Yun menggantinya dengan istilah Sapi Menek Pring atau dalam bahasa Indonesia Sapi Naik Bambu (sate komoh adalah potongan daging sapi yang dimasak bumbu merah, digeprek hingga agak tipis, ditusuk di tusukan bambu, kemudian dibakar). Atau menggunakan bahasa Walikan khas Malang, seperti Lecep untuk menyebut Pecel.

Entah sejak kapan pastinya warung Bu Yun berpindah ke daerah Kauman, tak jauh dari tempat asalnya. Namun di sana, meski dengan pertunjukan ludruk yang masih istimewa, bangunan lama dari kayu tak bisa tergantikan oleh angkuh beton yang menopang ruko. Ada yang hilang di situ. Seperti halnya surat elektronik yang menggantikan kertas surat. Meski isi pesan sama, media yang berbeda membuat rasa tak lagi serupa.


Apa sejak itu warung Bu Yun kemudian menjadi sepi dan kalah pamor dari warung-warung atau café yang banyak bermunculan di kota Malang? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, nostalgia itu masih tetap ada setiap kali saya melewati jalan KH Ahmad Dahlan. Dan sekedar untuk mengenangnya, saya mencoba memasak Sapi Menek Pring, salah satu menu favorit yang kerap dipesan almarhum bapak saat berkunjung ke warung Bu Yun.



Sapi Menek Pring (Sate Komoh)

Sumber: ibuk

Bahan:

500 gr daging sandung lamur

600 ml santan kental

Minyak goreng

3 lembar daun salam

2 batang serai

7 lembar daun jeruk

Air asam



Bumbu halus:

100 gr cabe merah

Cabe rawit (sesuai selera)

10 bawang merah

5 bawang putih

2 sdt ketumbar

1 sdt jinten

2 ruas jari lengkuas

2 ruas jari jahe

Garam

Gula merah



Cara membuat:

Cuci bersih daging sapi, rebus dengan 1 liter air hingga setengah empuk. Angkat daging sapi, potong sesuai selera, sisihkan.

Tumis bumbu halus hingga wangi. Masukkan batang serai geprek, daun jeruk, daun salam, tumis hingga layu. Masukkan potongan daging dan air kaldu sapid an air asam, ungkep hingga air asat. Tuang santan kental, didihkan hingga meresap dan daging empuk.

Ambil 3-4 buah potong daging, tusukkan di tusukan bambu, lalu bakar saat hendak disajikan.

Hidangkan dengan sayur asem atau sayur sop. Enaaaak!

No comments:

Post a Comment