Pound Cake



Saya lupa kapan terakhir kali membaca novel sampai habis. Sepertinya bertahun lalu, pada novel Manjali dan Cakrabirawa. Atau pada The Unknown Errors of Our Lives. Entah saya tidak ingat. Beberapa novel yang mengisi daftar resolusi buku di 3 tahun terakhir pun belum juga saya selesaikan; seperti 1984, Anna Karenina, The God of Small Things, The Famished Road atau Cantik Itu Luka. Membaca pada masa seperti ini menjadi sebuah kemewahan. Bertahun lalu saat masih kuliah, Vagina Monologues atau Animal Farms bisa saya habiskan dalam satu malam. Namun saat ini, membaca satu bab buku terjemahan Paulo Coelho saja butuh perjuangan lebih.

Saya dulu, sering bertemu beberapa teman hanya untuk duduk diam bersama membaca buku masing-masing. Sesekali berseloroh tentang isi buku, lalu kembali tenggelam dalam kata. Diam yang karib. We are sailing in the different sea, but we are sailors. Saat pertemuan telah usai, di sepanjang jalan kami sibuk menceritakan pengalaman membaca masing-masing, hingga saat tiba di kostan, kami sama-sama tersenyum karena merasa penuh hari itu.

Pada waktu itu, membaca adalah perjalanan menuju saya. Secuil meditasi dalam kesunyian, saat yang ada hanya saya dan tokoh dalam buku. Tak ada riuh rendah likes atau follower atau komen. Tak ada gegap gempita maya maupun basa basi indah. Semua hanya kesunyian yang tersembunyi dalam ruang-ruang imajinasi kita.



Saya membayangkan, saya yang sekarang, yang lebih tertarik pada dapur dan foto, sedang menyiapkan pesta buku kecil untuk saya bertahun lalu dan teman-teman. Entah itu teman nyata atau hanya seorang Pangeran Kecil, atau Konstantin Dmitrich Levin (yang selalu saya bayangkan memiliki rupa seperti Adam Levine), atau hanya Matilda yang sedang menghindari perlakuan kejam Miss Trunchbull. Dan sembari melihat Kiki muda bersama teman-teman imajinasi asik membaca dan bertukar pikiran, saya sajikan Elvis Presley’s Favorite Pound Cake.

Mengenai namanya, konon mendiang raja rock n roll Elvis Presley suka banget dengan pound cake bikinan temannya ini. Sehingga setiap Elvis pulang kampung, sang teman dengan senang hati selalu membuat 1 loyang besar pound cake untuk Elvis dan menurut kabar burung, bisa dilahap habis Elvis seorang diri!

Pertama kali baca resepnya agak heran karena kita ga perlu memanaskan oven terlebih dahulu sebelum memanggang cake. Saat adonan telah selesai dibuat dan dituang ke loyang, saat itulah kita baru memanaskan oven. Pemanggangan dengan cara seperti ini membuat cake mengembang dengan sangat perlahan, menghasilkan cake yang lebih padat, berpori halus dan lembut.

Buat yang tidak terbiasa, mungkin agak aneh ya, apalagi pound cake ini remahannya sangat minim. Saking halusnya pori, saya sempet mikir apa cakenya bantat ya. Eh ternyata waktu digigit, empuk dan lembab banget. Boleh dicoba untuk yang suka pound cake dengan rasa yang kaya, tapi buat yang terbiasa dengan pound/butter cake yang aga fluffy, pound cake ini akan terasa berat. Jadi, kembali ke selera masing-masing ya.


Elvis Presley's Favorite Pound Cake
Sumber: epicurious

Bahan:
1 cup (227 gr) mentega tawar
3 cup (360 gr) tepung terigu protein rendah
1/4 sdt garam
3 cup (600 gr) gula pasir (saya 400gr)
7 butir telur besar
2 sdt ekstrak vanilla initravanilla
1 cup (250 ml) krim kental

Cara membuat:
Jangan panaskan oven.
Oles tipis loyang dengan mentega, taburi terigu sampai rata.
Dengan kecepatan tinggi, kocok mentega dan gula hingga pucat dan mengembang. Masukkan telur satu demi satu, kocok rata setiap kali menambahkan telur. Tambahkan ekstrak vanilla, kocok rata.
Turunkan ke kecepatan rendah, masukkan setengah bagian tepung, aduk. Tuang krim kental, aduk. Terakhir masukkan sisa tepung, aduk rata.
Naikkan ke kecepatan sedang, kocok adonan selama 5 menit hingga adonan halus.
Tuang adonan ke dalam loyang, hentakkan agar gelembung udara keluar.
Masukkan ke dalam oven, rak tengah.
Panaskan oven suhu 180 dercel, panggang selama 1-1 1/4 jam hingga cake matang (lakukan tes tusuk).
Keluarkan cake dari loyang, letakkan di rak kawat hingga dingin. Potong-potong menurut selera, sajikan dengan secangkir teh hangat, setumpuk novel klasik dan segerombol teman khayalan.

Comments