Chocolate Meringue Cake





It’s sometimes funny to see how people change. Lebih lucu lagi kalo yang berubah itu ternyata kita. Saya, maksudnya. Tujuh tahun lalu, tak akan terlintas sedetikpun di pikiran kalo saya di tengah malam seperti ini akan ngeblog setelah seharian bebersih dapur, ngasuh anak, masak dan segala pekerjaan domestik tak berkesudahan itu. Satu-satunya waktu sendiri adalah tengah malam seperti ini, saat semua kewajiban istri dan ibu usai, sebelum esok memulai hal yang sama. All over again.

Tujuh tahun lalu, ketika getol-getolnya mempelajari feminisme, menikah adalah the least thing on earth I imagined. Saya bahkan pernah berdebat dengan seorang sahabat betapa pernikahan adalah legalisasi hubungan seksual, in the name of religion and social construction. And love doesn’t need those legally binding formal institution. Tapi tentu saja, I sometimes feel that God loves me that much. And He’s surely has a very big sense of humor. Me, the one who opposed marriage idea years ago, diketemukanlah dengan my better half. The one who could make me laugh and cry in a second. And yes, I eat my words. Blatantly. Married at 26 right after I graduated. And I am living what I cursed years ago: Manak, Masak, Macak atau dalam seloroh kaum feminist title WIFE: Washing, Ironing, Fucking and Entertaining.



It took years of struggling, crumbling, standing and falling - and it’s still keep on going – to accept this version of life and slowly but surely forget my crazy dreams. But rather than rejecting or escaping from those feminist’s nightmares; I embrace them instead. I am married. I have kid. I love cooking. I am washing the dishes. And guess what, I am fine with that.

Seorang teman yang saya anggap adik sendiri, saat ini memiliki kehidupan yang saya impikan bertahun lalu: menjadi wanita karir, keliling Indonesia demi misi pendidikan dan kebudayaan, bertemu dengan para pemangku jabatan kelas 1, hingga puncaknya beberapa bulan lalu tergabung dalam tim kuliner yang berangkat ke Frankfurt Book Fair. She’s living my old dreams, dan anehnya, I am happy with her life. I congrats her faithfully. Tak ada rasa iri atau apa. No more “I wish I were”.

Well, I guess we are, somehow, living the life we’re less expected, but most needed. Hidup saya yang sekarang jangan-jangan adalah rapalan lirih doa orangtua, suami, anak dan saya yang entah kapan. Dan barangkali hidup yang kita jalani saat ini adalah bagian terbaik dalam drama kehidupan kita. So, let’s make the best out of it.


Rustic Chocolate Meringue Cake
Sumber: Donna Hay Magazine April-Mei 2014

Bahan:
120 gr coklat blok, cincang
90 gr mentega tawar, cincang
1 telur
2 kuning telur
45 gr gula semut
1/2 sdt vanilla
25 gr tepung terigu
1/4 sdt baking powder
20 gr almon bubuk

Meringue:
2 putih telur
100 gr gula pasir
1/2 sdt cuka
2 sdt maizena
10 gr cokelat bubuk



Cara membuat:
Panaskan oven 100 dercel, siapkan loyang bulat diameter 18 cm.
Campur tepung dan baking powder.
Campur cokelat blok dan mentega di panci, panaskan hingga leleh, sisihkan hingga dingin.
Dalam wadah lain campur telur, kuning telur, gula semut dan vanilla, kocok hingga mengembang dan pucat.
Masukkan campuran cokelat, campuran tepung, dan almon bubuk, aduk balik.
Panggang selama 35-40 menit hingga set.
Naikkan suhu oven ke 180 dercel.
Dalam mangkuk bersih kocok putih telur dan gula pasir hingga mengkilap. Tambahkan cuka, kocok lagi hingga kaku (jambul petruk). Ayak maizena dan cokelat bubuk, aduk balik.
Tuang adonan meringue ke cake coklat sambil ratakan.
Panggang kembali selama 20-25 menit hingga permukaan meringue garing.
Angkat, sajikan.

And guess what, the best thing being mom/wife as a kitchen conqueror is you could do magic with everything you make. Cake coklat meringue di atas keesokan harinya berubah jadi….



Tiramisu!
Still from Donna Hay

Bahan:
180 ml krim kental
40 gr gula bubuk
90 ml kopi kental (espresso)
Sponge cake (pake cake coklat di atas)

Cara membuat:
Campur krim kental, gula dan 30 ml kopi ke dalam mangkuk, kocok hingga mengembang, masukkan ke plastic segitiga.
Cetak cake coklat sesuai selera, celup ke dalam sisa kopi, taruh di dasar gelas.
Semprotkan krim di atas cake, ulangi langkah di atas hingga cake dan krim habis.
Taburi dengan coklat bubuk, sajikan dingin.

Comments

  1. Para emak memang ajaib ya kalau di dapur. Masakan bisa "disulap" jadi menu baru. Kasus chocolate meringue to be tiramisu juga pernah saya alami. Bikin ketan durian. Besoknya lihat masih banyak santan duriannya langsung disulap jadi kue lumpur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha betul mbak Rika, apapun bisa disulap kalo udah jadi emak2 ya. jadi mbayangin lumpur dureeeen, hmmm enak kanyaknyaaaa

      Delete
  2. nice writing, Ki... ternyata kita baik-baik saja ya, sampai sekarang :) mimpi menjadi? yowis biar bocah yang wujudin ;-)tfs!

    ReplyDelete
    Replies
    1. yes! ternyata kita baik-baik saja meski arus kehidupan mengantarkan kita ke rumah, bukan ke belahan kehidupan lain yg kita impikan dulu. dan bahwa ternyata jadi emak-emak biasa yang mengeluh ttg harga sembako, ikut ngantri diskon minyak goreng, cerewet ke anak-anak ttg ini itu dan seluruh hal-hal kecil itu ternyata ga buruk2 amat mbak huahahaha. we might not reach our dream, but we support our husband and kids to reach their dreams and its allright. makasih yaaaa for have the same feeling :D

      Delete

Post a Comment