Sunday, October 4, 2015

Tentang Orisinalitas



Dengan muka penuh amarah artis Titi Rajo Bintang mengarahkan moncong bedil ke kepala Marcellino Lefrandt, di bawah Titi tersungkur penyanyi Andre Hehanusa dalam dekapan Regina Ivanova. 

Sudah bisa menebak cerita di atas berjudul apa? Yak anda benar, Sabai Nan Aluih adalah salah satu dari 17 foto cerita rakyat yang dipamerkan di Grand Indonesia Agustus lalu. Pameran foto bertajuk Alkisah yang melibatkan 100 pekerja seni tersebut merupakan mahakarya dari fotografer muda Rio Wibowo atau yang populer sebagai Rio Motret.

Mengangkat cerita yang popular ke dalam foto dan menggunakan sosok selebritis sebagai modelnya, hmmm, sounds familiar?

Yuuhuuu, konsep seperti itu telah lebih dulu diangkat oleh fotografer kenamaan asal AS, Annie Leibovitz. Sejak tahun 2007 hingga kini, Leibovitz telah mempublikasikan foto-foto selebriti AS dari Taylor Swift sampai David Beckham dalam balutan seri kisah Walt Disney seperti Putri Salju, Cinderella, Rapunzel, Putri Tidur, dll.

Eeeeh, tunggu. Kalo Leibovitz udah lebih dulu bikin foto dengan konsep seperti itu, lalu pameran foto Alkisah punya RioMotret ga orisinal dong?

Yakin?

Perdebatan mengenai orisinalitas bukan hal baru di dunia seni, bahkan bisa jadi setua umur kelahiran seni itu sendiri. Masih hangat pertarungan dua raksasa gadget Samsung dan Apple yang meributkan hak paten (yang lagi-lagi berasal dari orisinalitas) dan masih berlangsung hingga kini. Terus pertanyaannya, adakah suatu karya yang benar-benar murni tanpa ada jejak sentuhan karya yang telah ada sebelumnya?

Bukankah lukisan-lukisan Pablo Picasso sarat dengan sentuhan seni pahat Afrika di awal karirnya? Dan kalo dirunut lebih jauh lagi, toh alfabet hanya terdiri dari 28 huruf, namun dari jumlah yang terbatas itu lahirlah karya sastra bertaraf nobel seperti The Old Man and The Sea sampai coretan surat cinta anak ingusan. Pun begitu pula dengan tangga nada yang hanya tersusun atas 7 nada dasar, tapi dari situlah partitur Beethoven sampai irama dangdut koplo dirangkai. See, tidak ada satupun karya manusia yang berasal dari ruang kosong. Semua yang ada di hadapan kita saat ini adalah replikasi, duplikasi, rekonstruksi, dekonstruksi, serta inspirasi dari yang terlebih dahulu ada.

Pernah dengar Sturtevant? Elaine Sturtevant (1924-2014) adalah seorang seniman keturunan AS-Perancis, termasyur karena karyanya yang mencontek habis seniman Amrik Andy Warhol, Jasper Johns sampai Roy Leichentein. Tidak hanya menjiplak gambar, sketsa, lukisan, foto, video bahkan Sturtevant juga mencontek teknik para maestro tersebut. Dan anehnya, hasil contekan Sturtevant seringkali dihargai jauh lebih tinggi daripada karya asli yang diconteknya (bahkan sesuatu yang dicontek Sturtevant malah melambungkan nama seniman aslinya). Terlepas dari kontroversi yang merebak atas pilihannya menjadi penjiplak karya seniman lain, proyek menjiplak Sturtevant menunjukkan bahwa plagiarisme dan orisinalitas tidak pernah memiliki batasan yang tegas dan pasti.

Ambil contoh di dunia Food Photography. Dua foto yang dibuat oleh dua orang yang berbeda akan menghasilkan foto yang berbeda pula (apalagi bila dilakukan di waktu dan tempat yang berbeda). Perbedaan dari yang paling kentara seperti jenis kamera dan lensa, jenis obyek (meski sama-sama tomat; tapi ukuran, jenis, volume, bentuk dan setiap aspek ekstrinsik tomat akan berbeda antara tomat yang satu dengan yang lainnya), properti yang digunakan, proses editing sampai perbedaan kualitas cahaya tidak akan membuat 2 foto menjadi sama persis. Tak hanya dua orang, bahkan untuk remake foto milik kita sendiri di waktu yang berbeda tidak akan menghasilkan karya yang serupa. 


resep dan foto ini terinspirasi dari foto di bawah

foto punya http://www.andersonandgrant.com/2014/09/friday-favorites-7.html
Karena itu, pencarian orisinalitas barangkali akan berakhir sia-sia (filsuf postmodernisme Baudrillard bahkan bergumam bahwa orisinalitas telah mati). Manusia tidak akan pernah bisa mengelak pengaruh dari luar, apalagi di tengah arus perkembangan informasi dan teknologi seperti saat ini, di mana kita begitu mudahnya disuguhi ribuan gambar setiap menitnya. Apa yang kita lihat dan baca, meski selintas saja, bisa jadi diam-diam mengendap di alam bawah sadar kita, dan tinggal menunggu waktu untuk tiba-tiba muncul menjadi sumber inspirasi. Pun begitu pula dengan ingatan akan masa lalu, kekaguman terhadap seseorang, jaringan pertemanan sampai pengalaman akan menuntun tangan kita saat berkaya. Karena itu desainer fashion asal Jepang, Yohji Yamamoto suatu kali berujar, Start copying what you love. Copy copy copy copy. At the end of the copy you will find yourself”.

Meski menyarankan kita untuk terus menyontek, adagium Yamamoto menyiratkan satu hal, yakni tentang otentisitas (authenticity). Bagaimana cara meramu aneka pengaruh dari luar dan menyatukannya dengan passion itulah barangkali yang menentukan otentisitas karya seseorang. Persis seperti yang diutarakan Steven Johnson di hadapan audience TED, “We take ideas from other people, from people we’ve learned from, from people we run into in the coffee shop, and we stitch them together into new forms and we create something new. That’s really where innovation happens. 

Orisinalitas mustahil diraih dan pencarian akan orisinalitas bisa-bisa malah membuat seseorang (terutama untuk pemula) jalan di tempat akibat dihantui orisinalitas. Padahal, otentisitas lah yang membedakan karya satu dengan lainnya. Otentisitas lah yang membuat karyaku menjadi karyaku. Manusia tidak akan mampu mencipta hal yang benar-benar original, maksimal yang bisa dia lakukan hanya berusaha membuat karya yang berbeda dari yang sudah-sudah. Mau melabelinya sebagai inovasi atau modifikasi, maknanya sama.

Bila dikembalikan ke Food Photography, modifikasi bisa kita lakukan lewat setiap aspek, entah lewat  warna, tekstur, penyusunan styling dan komposisi, pengaturan cahaya, pengeditan, dsb. Misalnya, sebagai pengagum Aisha Yusaf garis keras, saya sering mencontek stylingnya. Tapi tentu saja dengan hero, warna, arah cahaya, sampai props yang berbeda. Maka hasilnya pun sangat berbeda.

Namun suatu karya yang otentik, yang sarat akan soul  kita – atau jati seni, seperti La Binar menyebutnya – tak bisa dicapai dalam sekejap mata. Klise memang, tapi hanya dengan latihan dan latihan terus meneruslah kita bisa “klik” dan menemukan gaya kita sendiri. Selain konsistensi untuk terus melatih diri, salah satu hal yang tak kalah penting adalah kejujuran.

Apapun genrenya, setiap seniman hendaknya mendasari setiap karyanya dengan kejujuran. Sejelek, se-gakmasukakal, seaneh dan sehancur apapun karyamu, if you truly honest to yourself, you will be glad of your works. Sosmed, terutama instagram dan facebook, tanpa sadar mengajarkan kita untuk menjadi generasi instan yang berburu jumlah likes dan followers. Maka tak heran bila banyak yang mencontek foto seseorang – atau versi parahnya mengakui foto milik orang – tanpa ada credit ke orang tersebut.


Foto Jeruk ini remake foto milik Sefa Firdaus
Iya, karya tersebut adalah milik kita karena kita yang memotrek sendiri, tapi apakah kita sanggup jujur dengan memajang nama sang inspirator dan mengakui bahwa kita terinspirasi/meremake/mencontek fotonya? Toh pencantuman nama tersebut hanya bentuk apresiasi kecil atas karyanya yang begitu berpengaruh terhadap kita (kalo ga sangat berpengaruh ga mungkin kita contek kan?).

Akhir kata, pesan Jim Jarmusch tentang orisinalitas ini barangkali bisa jadi renungan, sekaligus kesimpulan tulisan ini.

Nothing is original. Steal from anywhere that resonates with inspiration or fuels your imagination. Devour old films, new films, music, books, paintings, photographs, poems, dreams, random conversations, architecture, bridges, street signs, trees, clouds, bodies of water, light and shadows. Select only things to steal from that speak directly to your soul. If you do this, your work (and theft) will be authentic. Authenticity is invaluable; originality is non-existent. And don’t bother concealing your thievery — celebrate it if you feel like it. In any case, always remember what Jean-Luc Godard said: “It’s not where you take things from — it’s where you take them to.

Tak ada yang orisinal. Conteklah apapun, dari manapun, yang seirama dengan inspirasi atau yang memerciki imajinasimu. Ambillah inspirasi dari film lawas, film anyar , music, buku, lukisan, foto, puisi, mimpi, percakapan antah berantah, arsitektur, jembatan, tanda jalan, pohon, awan, lekuk air, cahaya, bayangan, apapun. Pilihlah yang paling nyambung dengan jiwamu. Kalau kau lakukan ini maka hasil karyamu akan menjadi otentik. Otentisitas itu tak ternilai sedangkan orisinalitas tak pernah eksis. Dan jangan menyembunyikan fakta bahwa kau mencuri, malahan rayakan kalau kamu benar-benar menyukainya. Selalu ingat apa yang Jean Luc Godard katakan “bukan tentang dari mana sesuatu berasal, namun ke mana kau membawanya”.





ps 1. The content of this writing isn’t mine solely, I’m only the notulen who catch a glimpse of crazy idea, thoughtfully but heartbreakingly comments, and honest experiences from the Sempels.
ps 2. the first picture above is Zuppa Soup, with masks - yes masks - as bacground. Weird props using, but a dear friend said that the picture resemble my authenticity. 






2 comments:

  1. Tulisannya cukup berat bagi aku, pointnya wokeh banget, tetapi kelihatan memang kemampuan berpikir dan menulisnya Kiki diatas rata2 ☺☺👍👍. Salam kenal di blog ya dari tukang tulis amatiran...ojok diguyu kalau ndelok blogku 😀☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. wakakakak, menyalurkan obsesi dari penulis mbak, maap kalo ndaki-ndaki ya, anggep aja selingan hahaha. suwun wes mampir mbak Opi :*

      Delete