Sunday, October 4, 2015

Siomay Batagor


 
Jauh sebelum Cornelis De Houtman melabuhkan jangkar kapal di Banten tahun 1596, bangsa Cina telah terlebih dahulu mendarat di pesisir pantai Jawa Timur pada abad 5. Rombongan ras kuning tersebut datang bergelombang dalam misi perdagangan dengan kerajaan-kerajaan nusantara.

Namun kemudian kita tahu bahwa bukan hanya kain sutera dan rempah-rempah saja yang dihasikan dari ekspedisi Panglima Ceng Ho. Lebih dari itu, ada asimilasi dan akulturasi budaya Cina dan Indonesia yang menghasilkan kebudayaan anyar yang menjadi salah satu kekayaan khas Indonesia.

Termasuk di dalamnya adalah kuliner peranakan.

Istilah kuliner peranakan merujuk pada masakan Cina yang bersentuhan dengan cita rasa Melayu. Siomay misalnya. Di Negeri Tiarai Bambu sana, siomay adalah salah satu Dim Sum (makanan kecil) berupa daging (babi) cincang yang dibungkus kulit tipis dari tepung terigu, dimatangkan dengan cara dikukus dan disajikan dengan cocolan cuka atau kecap asin. 

Saya membayangkan, salah seorang penjelajah Cina yang terdampar di Jawa sedang merindu kampung halamannya. Rindu dengan Dim Sum yang mengepul hangat dari wadah bambu yang biasa disajikan mama atau ciecienya. Namun di pesisir Jawa ia tak menemukan daging babi, yang tersedia di pasar hanyalah ikan dan udang. Demi mengobati kerinduannya, ia mengolah Siomay dengan daging ikan dibungkus kulit pangsit. Toh meski tak serupa dengan yang biasa ia makan bertahun lalu, kehangatan keluarganya di Tiongkok Selatan tiba-tiba hadir lewat Siomay yang ia buat. Untuk menjaga kenangan, sejak saat itu ia biasakan memasak Siomay untuk anak cucunya.


Ratusan tahun kemudian Siomay telah menjadi panganan Indonesia. Hingga suatu hari seorang Sunda mengucuri Siomay dengan bumbu kacang. Tak disangka, lidahnya menagih. Kadang ia campur adonan Siomay ke dalam tahu karena kehabisan kulit pangsit, dan lagi-lagi karena iseng, coba ia goreng siomaynya, hingga jadilah Siomay dan Batagor. Jajanan pinggir jalan yang menjadi kuliner khas tanah Parahyangan.

Tapi tentu saja, cerita tentang kerinduan seorang Cina hingga akhirnya membuat Siomay tersebut hanyalah karangan saja, karena sampai saat ini saya belum juga menemukan sejarah pembuatan siomay dan batagor. Meski demikian, siapapun pasti paham bahwa siomay dan batagor adalah wujud akulturasi budaya cina Indonesia. Dan untuk mencoba menapaktilasi akulturasi tsb, saya mencoba bikin siomay dan batagor hari ini.



Siomay dan Batagor
Sumber: Ricke Indriani (dengan modifikasi menyesuaikan bahan)

Bahan:
500 gr udang kupas, blender hingga halus
5 bawang merah
4 bawang putih
1 sdt garam
¼ sdt merica bubuk
1 sdm kecap ikan
1 sdm minyak goreng
150 gr labu siam, parut kasar
2 butir telur
2 batang daun bawang, iris halus
150 gr tepung sagu




Pelengkap:
Kulit pangsit
Tahu, potong segitiga
Pare, potong panjang kurleb 3 cm, buang isinya
Telur rebus
Jeruk nipis/ jeruk pecel

Cara membuat:
Haluskan bawang merah dan bawang putih.
Dalam mangkuk besar campur udang, bawang merah dan bawang putih, gula, garam, merica dan minyak ikan.
Tambahkan telur, daun bawang, labu siam dan minyak goreng.
Terakhir masukkan tepung, aduk rata.
Dengan memakai sendok, ambil adonan, letakkan di tengah kulit pangsit, bungkus.
Untuk tahu, iris tahu di tengah tanpa terputus, masukkan sesendok adonan ke dalam irisan.
Untuk pare, masukkan adonan ke dalam lubang pare.
Kukus sampai matang untuk siomay, atau langsung goreng untuk batagor.






Bumbu Kacang
250 gr kacang tanah, goreng
3 cabe merah besar
3 siung bawang putih
2 lembar daun jeruk, sobek-sobek
1 sdm garam
500 ml air

Cara membuat:
Giling kacang tanah hingga lembut, sisishkan.
Haluskan cabe merah dan bawang putih lalu tumis dengan daun jeruk hingga harum.
Tuang 500 ml air, bumbui dengan garam, aduk hingga mendidih.
Masukkan kacang tanah giling, masak sampai meletup-letup dan minyak kacang keluar.

Cara penyajian:
Potong potong siomay, tahu, pare dan telur rebus.
Siram dengan bumbu kacang, beri sedikit kecap lalu kucuri jeruk nipis. Sajikan.




No comments:

Post a Comment