Roti Tanpa Uleni


Bicara tentang ragi adalah berbicara tentang peradaban manusia itu sendiri. Karena konon, ragi telah dimanfaatkan oleh bangsa Mesir Kuno sejak jaman prasejarah, suatu masa saat manusia belum mengenal tulisan. Bangsa penyembah Dewa Ra tersebut menggunakan ragi dalam proses fermentasi untuk membuat minuman beralkohol dan roti.

Sedangkan di Indonesia, roti adalah panganan asing yang dikenalkan Belanda di abad ke-20. Meski demikian, ragi sebagai mikroorganisme yang mampu memfermentasi karbohidrat bukanlah hal  asing di Indonesia. Menurut Denys Lombard, tempe berasal dari kata nusantara tape yang mengandung arti fermentasi, dan wadah besar tempat produk fermentasi disebut tempayan. 

Karena itu, jujur saja, secinta apapun saya dengan roti, roti bagi saya tetap panganan asing. Yang tidak bisa menggantikan nasi, yang keberadaannya sekedar menjadi obsesi baking, yang setiap kali memakannya dengan margarine mengingatkan saya pada masa kecil dulu.


Dulu, Bapak sering sekali membeli roti tawar yang bentuknya nyempluk ginuk ginuk dengan kulit keemasan di daerah Pecinan. Tiap kali Bapak pulang membawa roti, bisa dipastikan keesokan harinya ibuk akan memotong-motong roti tersebut tipis-tipis, mengolesinya dengan margarin murah, menaburinya dengan gula pasir lalu memangganggnya di atas wajan bersemir margarin untuk sarapan. Lalu Bapak akan berkomentar "sarapane wong londo reeeek!". 

Maka dari itu, bagi saya roti terindah adalah roti tawar. Bukan roti artisan atau country bread dengan bentuknya yang rustic itu, yang kini menjadi buruan karena dianggap lebih sehat, earthy, natural dan mengingatkan pada roti-roti abad pertengahan di pelosok desa Eropa.

Dan saat saya akhirnya mencoba resep Roti Tanpa Uleni milik Jim Lahey yang tersohor itu; saat melihat permukaannya yang keemasan dengan sisa taburan tepung di sisi-sisinya, saat merasakan tekstur pori yang besar dan liat dan kenyal; tak ada perasaan apa-apa selain surreal. Bagai dongeng. Indah, hanya tak nyata. Karena tak ada kenangan masa kecil yang saya miliki dengan roti bundar yang saat itu saya pegang. Dan terlebih, karena tak ada jejak roti dalam darah Indonesia saya.


Meski begitu, tak ada salahnya kan mencoba meresapi salah satu makanan tertua di dunia, yang bahkan namanya disebut dalam Injil? Sembari menghirup bau ragi yang samar, menyentuh interiornya yang kopong namun halus dengan bunyi retakan yang renyah, saya membayangkan sedang hidup di abad pertengahan. Sambil menikmati roti artisan tersebut sayu-sayup terdengar Aki Medes di luar sana yang meneriakkan kata-kata "Eurekaa!! Aing keur naon ...."

Indah, hanya tak nyata.

Roti Tanpa Uleni
sumber: Jim Lahey lewat Steamykitchen

Bahan:
3 cangkir tepung
1/4 sdt ragi
1 sdt garam
1,5 cangkir air hangat

Cara membuat:
Campur semua bahan, aduk dengan sendok kayu. Tutup dengan plastik, letakkan di suhu ruangan selama 12-20 jam.
Taburi serbet kering dengan tepung. Basahi tangan, angkat adonan roti dan bentuk bulat, letakkan di serbet kering.
Tuang adonan di serbet ke tembikar. Istirahatkan selama 1 jam sampai mengembang.
Panaskan oven suhu 200 dercel selama 15 menit.
Tutup wadah tembikar, panggang selama 30 menit. Buka tutupnya, lanjutkan memanggang selama 15-20 menit sampai permukaan roti berwarna keemasan.
Dinginkan, keluarkan dari wadah.
Siap dinikmati.









Comments

  1. ah puitis kali kau kak... sejenak aku terbawa hayal ke waktu sarapannya pasukan mau tahu di inggris sana. btw ini rotinya lembut ki? atau hanya pas masih hangat aja? kalo gak pake tembikar, pake loyang biasa, nutupnya pake apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga lembut kyk roti tawar mbak Puji, tp ga sekering baguette. Porinya besar, kenyal. Klo ga ditutup bakal kering, krn ini ngovennya suhu tinggi agar dpt crust tp dalemnya msh lembab. Coba no knead bread punya peter reinhart, ga ditutup tp pake metode steam (waterbath) biar g kering.

      Delete
    2. Ga lembut kyk roti tawar mbak Puji, tp ga sekering baguette. Porinya besar, kenyal. Klo ga ditutup bakal kering, krn ini ngovennya suhu tinggi agar dpt crust tp dalemnya msh lembab. Coba no knead bread punya peter reinhart, ga ditutup tp pake metode steam (waterbath) biar g kering.

      Delete
  2. terima kasih atas inspirasinya! Betul sekali, makanan lezat serta sehat memang sangat penting, akan tetapi memasak dengan alat masak yang tepat juga sama pentingnya.

    Tips Membuat Kue Kering

    ReplyDelete

Post a Comment