Monday, October 19, 2015

Pukis Pandan


Suatu kali, seorang karib yang saya anggap adik sendiri bertanya heran, kenapa di galeri instagram saya sangat jarang ditemui masakan Indonesia. Saya mengiyakan keheranannya, karena memang, jujur saja masakan Indonesia menurut saya tidak fotogenik. Coba ingat bentuk dan tekstur rendang, yang pernah nangkring sebagai jawara makanan terlezat di dunia tahun 2013, hitam pekat dengan bongkahan daging yang mirip batu. Mau distyling model apa cobaaaa??? Dikasi dedaunan di sebelahnya? Kayak taman berbatu dong.

Gimana dengan jajanan tradisional? Meski terlihat fotogenik dengan warna-warna mencolok dan bentuk yang menggemaskan (terbayang cenil seperti ulat pink), tapi tau sendiri kan makanan tradisional itu ribet bikinnya. Bahannya boleh murah dan sederhana, tapi siapa coba yang mau mbuletin puluhan klepon dan mengisinya dengan gula merah untuk satu resep? Belum lagi proses merebusnya yang rawan njebrot. Aaaghhhhh. Paling gampang ya beli, udah murah, tersedia tiap hari lagi.

Nah yang terakhir ini saya agak segan. Sebisa mungkin makanan yang saya foto ya saya masak sendiri. Mengamini beberapa foodblogger senior, saat memasak makanan yang kita potrek, kita akan merasa lebih nyambung saat memotreknya. Karena kita tahu bagaimana proses dan seluk beluk pembuatan sehingga lebih mudah mencari apa yang mesti ditonjolkan dan apa yang mesti disembunyikan. Coba kalo makanan beli, dapetnya itu ya udah itu aja yang dipotrek. 

Sampai suatu hari saya membaca buku Antropologi Kuliner Nusantara terbitan Tempo.

Lalu saya tersentak.

Berapa banyak dari kita yang tahu asal muasal bahan makanan, proses pembuatan sehingga tersaji di hadapan kita? Cabe misalnya. Tumbuhan asli Amerika Latin ini ternyata memiliki sejarah panjang yang berjalin kelindan dengan adagium Gold, Glory, Gospel penjajah ke Nusantara. Alkisah tahun 1563, Sultan Khairun dari Ternate berhasrat menguasai Sulawesi Utara dan mengIslamkan penduduknya. Namun rencana tersebut tercium Portugis yang terdorong oleh misi Kristenisasi dan kolonialisme, sehingga Portugis mencuri start dengan mengirimkan dua kapal kora-kora ke Manado. Tujuh tahun kemudian giliran Spanyol yang masuk Sulawesi Utara. Dan tepat saat itulah Spanyol datang mengenalkan cabe yang mereka bawa dari jajahan mereka di Amerika Latin. Orang Minahasa yang hidup di pegunungan tertarik pada cabe yang panas dan mencampurnya dengan rempah panas dari pedalaman seperti cengkeh, pala, jahe bawang merah, kemangi, daun kunyit dan daun jeruk. Hingga akhirnya cabe menyebar luas ke pesisir Nusantara pada abad 19.

Membaca sejarah dan antropologi makanan Indonesia membuat saya berpikir lebih tentang apa tujuan saya ngeblog, nginstagram, dll. Kata Vivi, si teman karib saya di atas, sepinter-pinternya kita bikin pizza, ga akan lebih pinter dari orang Italia. Terus kenapa kita mesti repot menguasai makanan luar sedangkan masakan Indonesia sendiri tidak akan pernah habis untuk dieksplorasi? Tahukah kamu, di sekolah-sekolah kuliner (SMK) di Indonesia selama ini pakai kurikulum Barat, yang artinya masakan Indonesia bukan pelajaran utama. Sehingga mayoritas chef asal Indonesia sangat jarang jadi chef kepala di sebuah restoran, apalagi di restoran yang punya nama di dunia internasional. Dan karena itu juga, ga heran masakan Indonesia tenggelam namanya di kancah kuliner dunia, karena tanpa sadar kita tidak diajari untuk mencintai dan mempriotitaskan masakan Indonesia, baik secara formal maupun informal.

Sudah saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri, jadi ahli masakan Indonesia di negeri kita sendiri. Eaaaa, kok jadi kayak jargon kampanye hihihi. Intinya adalah, saya pribadi sangat berharap anak cucu saya kelak masih terbiasa makan muluk (makan pake tangan) nasi urap-urap dengan ikan asin dan mendol, bukannya malah gabisa hidup tanpa ayam goreng tepung sang kolonel atau aneka pasta. Dan saya mulai dari sini untuk mencintai, memasak dan mendokumentasikan hasil masakan Indonesia yang saya masak. I knoooooow, just like I wrote earlier, it takes more and more energy to shoot our bewildering – weird – unusual yet beautiful traditional foods. But if not us, then who else? If not now, then when? Eaaaa, kampanye lagi….

Cukup pidatonya, kembali ke resep – yang kali ini jajanan tradisional – pukis. Pukis pandan tepatnya, yang ekstrak pandannya saya bikin sendiri dari campuran daun pandan wangi dan pandan suji. Fyi, ini pertama kalinya saya bikin ekstrak pandan. Surpriseeeed, warnanya hijau cantik dengan semburat rasa pandan yang tegas, namun tidak terlalu tajam. Pokoknya beda dengan pasta pandan! Ga nyesel jauh-jauh minta daun suji ke tetangga ibuk, mblender dan nyaring sampai tumpah-tumpah.

Karena saya mblender pandannya dengan air yang cukup banyak, maka saya memeras santan pake ekstrak pandan (air ekstrak pandan dituang ke kelapa parut, lalu diperas yang menghasilkan santan hijau). Kalau bikin ekstrak pandan dengan air yang seuprit, tinggal ambil secukupnya lalu dicampur dengan santan.


Pukis Pandan
Sumber: Ricke-ordinarykitchen

Bahan:
250 gr tepung terigu protein tinggi
150 gr gula pasir
3 butir telur
¼ gr garam
1 sdt ragi instan
350 ml santan
65 gr margarine leleh
50 ml susu kental manis

Taburan:
Meses dan keju

Cara membuat:
Kocok gula, garam dan telur hingga mengembang dan pucat. Masukkan 1/3 bagian tepung, kocok sebentar. Tambahkan ½ bagian santan, kocok rata. Lakukan sisanya selang-seling tepung dan santan diakhiri dengan tepung. Masukkan ragi aduk rata. Tuang margarine cair, aduk rata. Terkahir masukkan susu kental manis, aduk rata. Istirahatkan selama 30 – 45 menit.
Panaskan cetakan pukis 15 menit. Tuang adonan memenuhi 2/3 bagian lubang cetakan, lalu tutup hingga setengah matang. Taburi meses atau keju, tutup kembali hingga matang. Angkat, sajikan.



Nb. Akhir-akhir ini suka banget sama barang jadul. Sadarkah kamu kalo foto-foto (dan properti foto) kita banyak terpengaruh dari Food Photography luar? Aneka cetakan listrik (dari cetakan waffle sampe donat), cetakan pie, botol-botol erlenmayer kekinian, sampe daun maple buat properti (helloooo, emang ada musim gugur di Indonesia???). Saat saya menyusuri lorong-lorong pasar loak, saya terkejut betapa Indonesia punya banyak perintilan masak yang tradisional (dan ada pengaruh dari Belanda). Cetakan kuningan, wadah buah perak dengan ukiran bunga-bunga di sekelilingnya, cetakan kayu kue Ku, properti blirik serta aneka sendok-sendok kuningan yang ternyata cantiiiik sekali.

Sebagai bagian dari kampanye cinta masakan Indonesia di atas, saya pribadi akan berjuang untuk memakai properti yang sangat Indonesia tersebut. Dan ssssttt, di akhir bulan ini saya akan buka onlen shop jualan sendok-sendok jadul dengan harga miring :D


8 comments:

  1. waaaaaaa buka onlen shooop? barakallah Kikiiii semoga usahanya berkaaah dan lantjar.. ah aku merinding baca tulisanmu ini, gak tau kenapa. kayaknya sih karena kipas angin di sampingku :p fotomu kian cetar! *sungkem*

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin aamiin mbak Pujiiiii, makasih doanya. yeeeeiii kirain merinding karena jiwa nasionalisme bangkit, ternyata krn kipas angin wakakakak

      Delete
  2. Replies
    1. kekekeke tunggu kak, aku masih sibuk luluraaaaan

      Delete
  3. uwaaa barang jadulnya banyak bangetttt^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum seberapa ini mbak, masih hunting terus hihihi, makasih udah mampir ^^

      Delete
  4. Replies
    1. hihihi propsnya culikable ya? makasih mbak Indah :D

      Delete