Day 1

Pernah suatu kali mbok bertanya (yang sampai sekarang belum saya jawab pertanyaannya), siapa fotografer favorit saya. Kalo fotografer secara umur (bukan food photographer), tentu James Nachtwey akan selalu menempati urutan teratas. Beliaulah yang pertama kali membuat saya jatuh cinta pada melukis dengan cahaya. Dan beliaulah yang memercik impian saya bertahun lalu untuk menjadi agen perdamaian di Afrika. Tapi takdir berkata lain, tentu saja. Saya ga ke Afrika. Dan alangkah baiknya kita beralih ke topik selanjutnya, yakni food photographer favorit, daripada saya kembali labil meratapi nasib karena cita-cita tak tercapai.

Jujur saja saya bingung memilih karena saking banyaknya food photographer yang karya-karyanya banyak menginspirasi dan mempengaruhi saya. Dari Eliza Setiawan yang membuat saya jatuh hati ke low key, Sefa Firdaus yang membuat saya semakin terjerat ke FP, Ira Rodrigues yang penguasaannya terhadap cahaya bikin saya klepek-klepek, Asri Pamuncar yang mengubah pandangan saya tentang food photography, La Binar yang menggelitik dengan still life, Henny Marlina yang banyak mengajari soal teknis fotografi, sampai Anitajoyo yang memancing kecintaan saya pada makanan Indonesia; daaan banyak lagi lainnya yang tidak sempat saya sebutkan satu demi satu. Tapi untuk tugas hari pertama 30 dbfp ini, saya pilih fotografer yang telah disediakan Neel aja ya, biar nama yang saya sebutkan di atas ga pundung karena saya cuma milih 2 :D

Pertama, saya pilih Matt Armendariz.

bukan foto saya, tapi milik Matt Armendariz
diambil dari https://www.pinterest.com/pin/72761350205895129/

Foto-foto Matt Armendariz menurut saya tipe editorial/ food blog yang lebih banyak bermain dengan ketidaksempurnaan untuk menunjukkan jejak aktivitas manusia di dalamnya. Dalam setiap fotonya, selalu ada detil kecil yang membuat saya ditarik ke dalamnya, ikut menikmati makanan yang difotonya. Misalnya di foto muffin, galette atau es krim, akan selalu kita temukan muffin yang telah digigit, galette yang dikucuri saus caramel yang berantakan atau es krim yang mencair. Namun justru sentuhan manusiawi itulah yang membuat fotonya hidup dan membuat makanan terlihat sangat real dan sangat applicable untuk dibuat di rumah. Di foto-foto Armendariz, property digunakan dengan jitu, sebagaimana fungsinya. Misalnya di foto galette, tak ada property lain kecuali sendok dengan bekas saus caramel. Dan sendok tersebut sudah cukup menyampaikan cerita foto tentang pembuatan galette dengan kucuran saus caramel yang berantakan, lengket namun manis.

Kedua, saya pilih Helene Dujardin.

Tak jauh berbeda dengan Armendariz, karya-karya Helen Dujardin  bernafaskan foto editorial yang homey sekali. stylingnya effortless, sangat luwes, dengan cahaya yang kalem. Tentang stylingnya, bisa jadi karena beliau berangkat dari food blogger sehingga foto-fotonya sangat bercerita. Makanan tidak hanya menjadi hero, tapi juga pendukung suasana. Sehingga tak jarang kita temui susunan botol-botol sebagai background untuk menegaskan suasana di dapur, atau sekedar jendela besar di sebelah meja makan yang menguatkan cerita sarapan pagi

So dari kedua fotografer di atas, saya menyimpulkan bahwa tendensi saya mengarah pada foto-foto model editorial yang lebih banyak menekankan pada cerita foto, daripada kesempurnaan subyek itu sendiri. Kalo kamu, siapa food photographer idolamu?


Anyway, tulisan ini adalah laporan hari pertama dari rangkaian 30 Days for Better Food Photography (30dbfp) yang digagas Neel dari LFP. Sebuah kursus onlen selama 30 hari non stop yang mengharuskan pesertanya untuk memotrek makanan sesuai dengan tema yang diberikan setiap harinya. Last thing, doakan saya bisa istiqomah ya, untuk baking, motrek dan nulis laporannya di blog. 

Comments

  1. Untuk mengetahui tema hariannya bisa dilihat dimana mbak?

    ReplyDelete
  2. Untuk mengetahui tema hariannya bisa dilihat dimana mbak?

    ReplyDelete

Post a Comment