Friday, September 11, 2015

Tentang Properti : Kepatutan



Kalo kamu orang yang masak masak sendiri, motrek motrek sendiri dan penggemar Caca Handika, pasti pernah dong kelimpungan karena keterbatasan properti. Misalnya nih, udah susah-susah bikin es krim, nyiapin setting pemotrekan, kamera sudah siap jepret, eh lha kok ga punya sendok es krim. Punya cupcake lucu tapi ga punya garpu cake yang imut, jadilah si garpu makan yang ga proporsional nangkring dengan manisnya di sebelah cupcake. 

Atau kayak saya beberapa bulan lalu yang saking kreatifnya pasangin garpu dan pisau sebagai alat makan jajanan pasar, dan jadilah steak cenil! Huahahahaha…#ditujesrame2



Seriously *ngomongginisambilngaca*, kalo buat dimakan sendiri sih ga masalah ya. Mau makan eskrim pake sutil, monggo. Makan steak pake gergaji ya hayuk aja. Tapiiii, saat makanan udah ketangkap tombol rana kamera, mau ga mau kita mesti mempresentasikan bagaimana makanan tersebut dimakan sebagaimana mestinya.

Tau sendiri kan, di dunia kuliner ada yang namanya table manner, yaitu tata cara tentang bagaimana dan kapan penggunaan alat-alat makan tertentu. Misalnya untuk makan sup, udah ada yang namanya sendok sup. Bedanya dengan sendok makan, si sendok sup ini lebih pendek serta berbentuk lebih bulat daripada sendok makan yang oval. Atau misalnya keberadaan pisau panjang bergerigi yang diperuntukkan untuk mengiris roti; berbeda dengan pisau mentega yang tanpa gerigi dan tidak tajam dan berukuran lebih pendek daripada pisau makan.

Perbedaan bentuk dan ukuran tersebut bukan tanpa alasan; karena setiap peralatan makan memiliki fungsi yang berbeda, ditujukan untuk jenis makanan yang berbeda serta memaksimalkan cara makan makanan tersebut. Kebayang kan susahnya ngiris steak sama pisau mentega atau makan eskrim pake sumpit?

Nah yang bikin kepala pening, ada puluhan macam alat makan yang bernama pisau tapi memiliki bentuk, ukuran dan fungsi yang berbeda. Begitu pula dengan garpu dan sendok. Ada garpu makan, garpu salad, garpu untuk menyajikan makanan (serving forks, biasanya untuk mengambil pasta di panci), garpu kue, garpu barbeque, dsb.

Weits, ga usah frustasi gitu, mau motrek aja udah dipusingin sama table manner huahaha. Kita sebagai fotografer amatir ga perlu sebegitunya harus punya setiap jenis alat makan tersebut, toh yang benar-benar mengerti dan jeli tentang penggunaan alat makan tersebut hanya orang-orang tertentu (chef, ahli kuliner dan food stylist!). Jadi agak aman pake sendok teh sebagai sendok kue atau sendok es krim (yang penting sama-sama kecil); asal ga pake sendok sayur aja. Tapi juga ga berarti kita seenaknya naruh alat makan di samping makanan yang kita potrek sih. Yaaah itung-itung latihan jadi food photographer/stylist professional ya (AAMIIN). Kalo sejak awal udah sembarangan pasang cutlery, apa ga diketawain klien klo nanti kita motrek bubur dipasangin sama garpu kue?

gambar dari sini

Selain cutlery (alat-alat makan), seringkali hal yang menggelitik adalah pemakaian properti secara umum. Ayo ngacung, siapa di sini yang cari kain perban lusuh buat dijadiin napkin (bahkan ada yang niat ngerendem napkinnya pake air kopi *colek Fiephan)? Atau, siapa yang pake vas sejuta umat dari Ikea sebagai botol minuman? Atauuuu, siapa yang nyimpen kaleng SKM sampe koleksi botol beling buat properti foto?

Yaaah, yang namanya tren, apa yang 50 tahun lalu dinggap aneh atau tabu, bisa jadi saat ini kekinian. Apa yang lagi booming di dunia, turut mempengaruhi fashion, seni, bahkan sampe ke Food Photography.

Sadar ga, dalam satu dekade terakhir semakin banyak food bloggers/food photographer/foodie yang menggunakan piranti ramah lingkungan (dari talenan batang kayu sampe piring dan gelas kayu jati (sambil ngiler tiap koenyit.store upload barang baru) dan menggunakan kembali bahan-bahan yang masih bisa dipakai (prinsip reduce, reuse, recycle) seperti botol, kaleng, napkin lusuh, alas kayu rustic, dll. Pun sekarang motrek makanan asli (saat foto komersil) sudah menjadi prinsip banyak food photographer. Dirty tricks seperti pake mashed potato untuk es krim atau ngoles formalin di daging udah ga jaman masbrooo!

Begitu pula tren jadul/vintage yang lagi ngeheitz, bikin instagram penuh dengan foto-foto ala abad pertengahan *lirik Beth Kirby, Mbak Eva dll. Dan kita pun tak kuasa menahan serangan barang-barang pintej itu, membuat kaki semangat melangkah menyusuri pasar loak demi berburu sendok jadul. *untung saya udah nyetok cutlery dari pemasok ilegal huahaha*
The more rustic, the merrier

Tapi meski lagi ngetrend, benda-benda yang saya sebutkan di atas ga selalu cocok dipadupadankan dengan setiap makanan. Semua tergantung konsep lah yau. Kalo konsepnya clean, bright ala-ala fashion photography flatlay; kayaknya sih aga-aga gimana gitu kalo dipasangin sama serbet perban lusuh dan pisau karatan. Meski, ga menutup kemungkinan ada juga konsep-konsep out of the box. Nah yang terakhir ini seringkali diangkat resto/café untuk menarik pelanggan atau sama siapapun yang memang anti-mainstream *lirik fiephan.  (Siap2 tar lagi dikamehameha sama fiefie).

Pernah denger kan di Taiwan ada resto berkonsep toilet yang menyajikan eskrim berbentuk feses? Atau yang lagi happening beberapa waktu lalu di Jakarta, restoran model rumah sakit, makanan minuman disajikan di jarum suntik sampai kantong infus?

Terlepas dari “pengalaman unik” yang ditawarkan resto di atas atau tren yang sedang kekinian, bila dipandang dari sudut Food Photography apakah hal itu bisa dibenarkan? Misal nih kayak pake vas Ikea sebagai botol susu, naruh sup di kaleng bocel, pake teko sebagai vas bunga, naruh kastengel di piring bersanding dengan garpu, ehem, atau kayak foto steak cenil di atas. Jujur saja, saya ga tau jawabannya dan sepertinya saya bukan orang yang tepat untuk menjawabnya.

kekinian: vas Ikea sebagai botol minum 

Namun sependek yang saya tahu, pemakaian properti seaneh dan setidak masuk akalnya mesti sesuai dengan konsep dan tema yang diusung. Kalo konsepnya makanan ala rumah sakit, ya monggo memakai kantong infuse diisi milkshake. Namun yang jadi pertanyaan,  apakah tema tersebut bisa berlaku universal dan bisa diterima setiap audience (dengan latar belakang budaya, adat istiadat, dan pengalaman yang berbeda)? Belum tentu. Bisa jadi orang tertarik, tapi juga sangat mungkin bikin orang jijik.

Nah  kembali ke Food Photography, tujuan utama FP adalah membuat siapapun yang melihatnya jadi ngiler, alias ada drooling factor di balik setiap pengaplikasian teori lighting, komposisi dan styling. Karena memiliki tujuan untuk menunjukkan bahwa makanan tsb edible, maka tentunya ada aturan dan batasan yang membuatnya berbeda dengan genre still life yang lebih longgar. Kalau di still life, mau motrek bangkai tikus dipitain, dikasi konde ditaruh samping buku terbakar pun ga masalah. Mau motrek tempat cuci piring berisi sisa sampah atau mengeksplorasi kerutan cabe silahkan. Karena prinsip dasar still life ada pada penyampaian pesan simbolik melalui permainan warna, tekstur, sifat, garis, dsb.

Lain halnya dengan Food Photography yang terikat pada adab/tata cara makan, budaya, aturan umum (table manner) dan yang tak boleh dilupakan tujuan utama FP itu sendiri: drooling factor. Karena itu umumnya sangat tidak mungkin menemukan foto soto yang disajikan di dalam pispot atau jerigen (contoh ekstrem yang disampaikan KakTir, karena pispot atau jerigen bukan wadah makan. Secara table manner dan drooling factor jelas tidak terpenuhi sama sekali.

So, meskipun kita “bebas” menggunakan properti apa aja sesuai tema yang kita angkat, satu hal yang perlu kita garis bawahi adalah tentang tujuan foto makanan yang kita ambil. Apakah foto makananmu bikin yang melihat langsung ngiler dan pengen jilat? Atau kamu motrek makanan buat have fun dan the hell what people said?  Well, only you can answer….


To be continued..


*tulisan ini hasil diskusi ngalor ngidul Sempelbie akibat ulah bank topik KakTir grrrrr*

3 comments:

  1. enak-enak nya png masakan kirim kan ke balikpapan lapar nah...........

    ReplyDelete
  2. enak-enak nya png masakan kirim kan ke balikpapan lapar nah...........

    ReplyDelete
  3. Parabéns!
    Suas fotos são lindas.
    Vivi (http://cozinhandocomretalhos.blogspot.com.br/)

    ReplyDelete