Sup Merah







Sungguh tak ada yang istimewa dari sup merah.

Ia sesederhana menikmati pagi di bangku taman. There is no rush. Hanya sekedar memeluk waktu yang berjalan lambat. Dan tenang.

Ada gurih dan manis yang lamat di kuah sup merah. Perihal yang berasal dari cincangan kasar bawang putih dan bawang bombay yang ditumis oleh waktu. Api kecil yang hampir padam. Panas membakar irisan bawang bombay, membuatnya terlihat transparan, serupa kaca yang diguyur hujan selepas senja.


Tapi yang lebih penting dari itu semua adalah apa yang kau sebut sebagai karamelisasi. Sedangkan aku lebih menyukai istilah pengorbanan sang bawang. Seperti kopi yang menguarkan wangi saat diseduh. Seperti itu pula bawang bombay yang kini menyumbang manis legit usai ditumis. 

Dan sungguh tak ada yang menarik dari sup merah.



Merah, kenapa merah tanyamu. Tak taukah kau bahwa kandungan likopen pada tomat yang murah itu jauh lebih tinggi daripada dia yang selalu kau bangga-banggakan di depan mataku, asparagus yang mahal. Dan yang membuatku jatuh cinta, likopen dalam tomat justru semakin berkasiat saat ia telah dimasak. Seperti halnya saat kuambil sarinya, dan kutuang dalam tumisan bawang.

Merahnya menyayatku. Perlahan. Bagai lautan darah yang marah. Semarah gejolak didihnya. Yang membuat keras hati wortel melunak. Yang menghancurkan kristal gula garam merica dan parutan biji pala. Yang menyesap perlahan ke setiap butir kacang merah, menghancurkannya beberapa dan membuatnya lebur menjadi kuah kental.

Dan kita tahu amarah itu untuk apa sayang. Untuk menghidangkan semangkuk sup panas bagi bocah tengil yang tak bisa diam itu. Yang menyeruputnya dengan semangat, yang membuat bibir atasnya berbekas gurat merah kuah tomat. Lalu ia tersenyum sambil bilang “minta lagi, unda”.


*resepnya sup tomat seperti yang tersebut di atas, takarannya kira-kira aja




Comments

Post a Comment