Donat Kentang, lagi


Saat masih kecil, saya banyak menghabiskan waktu di rumah emak (bahasa Jawa yang berarti ibu, tapi panggilan tersebut saya sematkan untuk nenek dari pihak bapak). Emak Kartima bukan seorang priyayi yang tinggal di rumah peninggalan Belanda. Sebaliknya, beliau justru orang-orang pinggiran yang tergerus jaman. Dengan 13 anak dan kemiskinan yang membelenggunya sedari lahir, tak banyak pilihan baginya kecuali masih memerah keringat di usia yang tak lagi muda. Emak Kartima kala itu adalah penjual gorengan.  Dari roti goreng, weci (heci atau bala-bala), menjes (fermentasi sisa kedelai) hingga donat ia buat sejak jam 2 pagi untuk kemudian dititipkan ke gerobak-gerobak penjual yang datang saat subuh. Semua adonan ia kerjakan sendiri tanpa takaran pasti. Sedangkan anak-anak perempuannya mendapat tugas untuk menggoreng di wajan besar di atas tungku kayu bakar. Saat menginap di rumahnya, sering saya terbangun dengan sedikit sesak nafas karena rupanya emak baru saja mematikan kompor purbanya.

Tak ada yang istimewa dari semua jualan emak. Roti goreng berbalut wijen, weci dengan udang kali di atasnya, menjes selebar tangan orang dewasa dan donat yang hanya dibalur gula tepung. Tapi rupanya bukan pada rasa makanan kita merindu, namun justru pada memori terdahulu yang hadir setiap kali kita menyantap makanan tersebut. Toh mesti sederhana, donat berbedak itulah yang hingga kini menjadi favorit saya. Krispy kreme atau Jco tidak sebanding dengan manis semriwing isis yang membuat mulut kita menjadi putih terkena gula tepung setiap kali menggigitnya. Saya ingat betul betapa kami terbahak-bahak setiap kali bapak memakan donat emak. Kumisnya yang hitam tebal seketika dipenuhi gula tepung di ujung-ujungnya.




Namun siang itu, emak tiba-tiba menguleni adonan donat. Tanpa banyak bicara, tangan keriputnya mencampur kentang tumbuk yang masih hangat dengan tepung, telur dan air. Saya ingat betul saat itu, karena emak tak pernah membuat donat dengan telur atau kentang. Sambil bermain dengan sepupu saya, Hari dan mbak Sulastri, diam-diam saya mencuri pandang ke adonan donat yang telah dicetak bulat dan sedang diistirahatkan. Pun saat digoreng, kemudian dimasukkan ke dalam wadah plastik besar berisi gula bubuk, mata saya tak bisa lepas dari donat tersebut. Hingga tak lama kemudian, tiba-tiba emak menyuguhi kami bertiga dengan setumpuk donat kentang panas yang baru saja dibuatnya, sambil berkata pendek “nyoh, ojok rebutan” (ini, jangan berebut). Kami bertiga terkejut senang, dan tanpa ragu melahap habis donat bikinan emak.

Pagi tadi saya teringat emak yang sejak 10 tahun terakhir pensiun jualan. Terakhir bertemu beliau saat lebaran kemarin. Sikapnya masih sama, tak banyak bicara dan selalu sibuk di dapur. Saat saya datang, emak langsung menggoreng nugget dan mengambilkan nasi sepiring penuh untuk saya, persis 20 tahun lalu saat saya pulang sekolah dan mampir ke rumah emak (rumah emak lebih dekat SD saya ketimbang rumah orangtua), beliau selalu menyiapkan nasi dan lauk untuk makan siang saya. Hanya bedanya saat itu, lauknya berupa menjes atau weci yang tidak laku. Begitu pula dengan donat atau roti goreng yang mulai mengeras, tak lupa ia bungkuskan buat camilan sore saya. Sering saya menggerutu ke ibuk, kenapa emak hanya membuat donat berbedak, sedangkan teman-teman saya selalu makan donat bertopping meses warna-warni. Ibuk hanya tersenyum saat itu.

Beberapa dicelup coklata putih dan dihias, tapi ga laku, akhirnya dikasiin tetangga

Dan kini giliran saya tersenyum. Tak butuh kata untuk menjelaskan memori. Karena bagi saya, donat bedak adalah wujud kasih sayang emak ke cucunya.

Donat Kentang

150 gr kentang tumbuk
300 gr tepung terigu protein sedang
70 gr gula pasir
5 gr ragi instan
2 butir telur (adonan masih agak basah, next akan pakai 1 telur)
60 gr margarine
Garam secukupnya
Gula donat

Cara membuat:

Campur bahan kering kecuali garam, aduk rata. Masukkan telur dan kentang tumbuk, uleni hingga kalis. Bila adonan sangat lengket, tambah tepung sedikit demi sedikit sambil diuleni.
Tambahkan margarine dan garam, uleni hingga elastis.
Istirahatkan adonan 30 menit sampai mengembang.
Kempiskan adonan, timbang masing-masing 40 gr sampai habis, bulatkan, istirahatkan 20 menit.
Panaskan minyak dengan api kecil. Tusuk tengah adonan dengan jari telunjuk lalu putar dengan kedua jari telunjuk hingga berbentuk cincin, lalu goreng hingga berwarna coklat keemasan.

Angkat dan tiriskan, bedaki dengan gula donat atau beri topping sesuai selera.




menikmati donat bedak sambil ke masa lalu, saat semua masih begitu sederhana. i love you, Mak!

Comments

  1. Nice shoot ki! These looks comotable...
    Dan ceritanya kok bikin eke mellow ya, salut buat emak!

    ReplyDelete
  2. lagi kangen emak dari lubuk hati terdalam nih, jadi meloyelo... tengs udah mampir ya ceu :*

    ReplyDelete

Post a Comment