Saturday, June 6, 2015

Week 19: Noodle

Bila dilihat dari galeri saya di Instagram, terlihat bahwa saya sangat jarang memotrek masakan lengkap (dish). Sebagian besar berupa penganan kecil yang sudah dari sononya terlihat cukup fotogenik, mudah didandani, serta tidak membutuhkan perlakuan khusus, dalam arti tidak berkejaran dengan waktu saat motrek, masih cukup aman dijepret selagi dalam kondisi panas maupun dingin.

Maka saat tema Mie muncul di minggu ke-19 52WFPP, jujur saja saya keder. Tiba-tiba teringat dengan tema Indonesian Food. Saat itu dengan sangat menggampangkan saya lakukan pemotretan di hari Sabtu, hari terakhir waktu pengumpulan. Dan ternyata foto ayam bumbu kuning punya saya gagal, tidak terlihat seperti ayam. Maka saat itu saya putuskan untuk bolos. Buat apa ngumpulin bila sejak awal saya kurang persiapan mengerjakannya sehingga hasilnya tidak maksimal?

Maka untuk minggu ini, saya sengaja bikin persiapan khusus, saya mesti motrek di awal2 minggu dengan konsep matang. I cooked the noodle by myself in two days (in a row), shot them in the same spot and properties, but in the different time. Berat dan sulit (mengingat saya sangat malas masak), tapi saya ga mau lagi menyepelekan tugas. Meski hasilnya belum memuaskan, but I know I have done my best, and I’m quite happy with that.

Dari 3 hari njepret, membaca dan mencatat berbagai masukan tentang styling mie, ini beberapa yang saya highlight:

Tahap persiapan:

-        Bila menggunakan sayur, sayur dimasak di wadah yang berbeda, atau cukup disiram air panas lalu cepat-cepat direndam air es agar warna sayur masih tetap terlihat cantik dan segar
Keuntungan dari memasak makanan yang kita foto adalah
kita bisa mengontrol seberapa matang makanan tsb.
Gagal poached egg hari 1, hari ke-2 pake telur rebus, less risky

-        Bila menggunakan telur, telur rebus adalah opsi yang paling aman, tapi mesti berhati-hati saat mengirisnya agar kuning telur terlihat mulus.


Foto hari pertama: poached egg yang tak berbentuk,
sayur terlihat terlalu matang.

-        Untuk poached egg agak tricky, sebaiknya poached egg dimasak setengah matang sehingga putih telur masih terlihat transparan, thus kuning telur masih terlihat jelas warnanya, untuk menambah drooling factor, bisa ditusuk/diiris sedikit sehingga kuning telur mbleber (bikin jilatable).

-        Untuk telur ceplok, bentuk tercantik pastilah telur mata sapi dengan kuning telur yang setengah matang.

-        Untuk mengurangi Over Exposure yang kerap menimpa putih telur yang berminyak, bisa diakali dengan taburan cabe kering atau irisan daun bawang


Cabe bubuk ditaburkan di telur untuk menghindari Over Exposure
Pict by @haswawed

-        Siapkan properti pendukung: piring untuk mie goreng, mangkok untuk mie kuah. Aturan ini tidak strict, boleh memakai wadah yang tidak biasa (ada beberapa peserta dengan ide cemerlang memakai wadah berupa cobek dan pincuk). Alat makan bisa sumpit, garpu, sertakan sendok untuk mie kuah.

Tahap styling:

-        Pertama Mie ditata dengan cara dicepol/menggunung (bisa dengan menaruh mangkuk kecil terbalik di dalam wadah mie. Bentuk cepol tersebut bertujuan untuk menambah dimensi mie dan menaikkan volume agar mie tidak terlihat flat.


Bentuk yang menggunung membuat mie terlihat
berdimensi dan bervolume
pict by @dewitrisna

-        Untuk mie dengan messy style, mie tetap harus dicepol terlebih dahulu, setelah mie rapi, ambil/cabut beberapa helai mie dan biarkan jatuh scr natural, sehingga desan grafis sbg mie yg berdimensi masih terlihat thus tidak mengganggu tampilan mie.

-        Setelah mie rapi, sayur, lauk , taburan bisa ditata. Misalnya sayur ditempatkan di pinggir mie bersebelahan dengan tomat dan atau telur. Udang/potongan ayam bisa ditaruh/ditempel di mie sedemikian rupa agar terlihat natural, atau cukup ambil 2-3 biji dan ditata yang cantik di atas gundukan mie.


Mie ditata sedemikian rupa dengan lauk yang cukup
agar terlihat cantik dan berimbang.
Pict by @lonapandy


Mie Goreng:

-        Permukaan mie dioles dengan minyak tipis tipis sehingga terlihat shiny saat terkena cahaya


Minyak di tiap helai mie terlihat jelas,
menambah faktor jilatable
pict by @lestijoeniar

Mie Kuah:

-        Untuk mie kuah lebih tricky daripada mie goreng, karena tujuan dari mie kuah adalah efek kesegaran yang didapat dari kuah. Efek kesegaran (sruputable) tersebut didapat dengan cara pantulan di kuah (thus, butuh cahaya yang aga kuat).


Lihat pantulan di kuah? salah satu syarat
agar kuah terlihat segar, sruputable.
pict by @anitajoyo

-        Karena kuah mie pada dasarnya adalah kaldu, maka perlu terlihat minyak kaldu di kuah, agar tidak seperti air. (untuk poin ini, kuah milik saya seperti air putih, bening tak terlihat minyaknya. Waktu saya tambahkan minyak goreng ke dalam kuah, hasilnya minyak menggumpal dan tidak tersebar di pinggir mangkok. Jadi sepertinya, memang butuh memasak kuah kaldu dengan lama untuk mendapatkan kuah yang berminyak)

-        Penggunaan property gelap sebagai wadah gelap lebih sulit untuk menampilkan kesegaran dan kelezatan kuah kaldu, bisa jadi wadah berwarna terang lebih mampu memperlihatkan minyak kaldu.

-        Saat mie dan lauk diatasnya sudah tertata rapi, tuang kuah di pinggir hingga terlihat menggenang (tapi ga banjir), lalu cepat2 jepret, karena semakin lama kuah akan meresap ke dalam mie, membuat mie mengembang dan kuah terserap habis. Opsi aman: kuah ditaruh di wadah tersendiri.

Untuk tema ini @sefafirdaus membebaskan bila ada yang memotrek mie mentah. Untuk memotrek mie mentah, maka arahnya lebih ke still life, bukan drooling effect yang kita kejar (ya masa mau makan mie mentah..); tapi perasaan wow, terkesima, terkesan dsb. Untuk itu dibutuhkan penguasaan dan permainan cahaya yang memadai agar mie mentah dapat stand out dan membuat siapapun yang melihat berdecak kagum.


Mie mentah juga mampu tampil wow dengan
cahaya dan styling yang cantik.
pict by @elizasetiawan





2 comments: