Saturday, December 3, 2016

Mimpi dan Roti


Akhir 2004.

Pertanyaan itu menggelayut di benak sekian lama. Pertanyaan yang terlontar dari mulut Pemimpin Umum Organisasi Pers Mahasiswa itu, “apabila kamu dihadapkan pada situasi: melihat seseorang meregang nyawa sedangkan di badanmu tergantung kamera; apakah yang akan kamu lakukan? Menolongnya atau memotretnya?”.

Pada saat itu, tahun 2004 saat instagram dan aneka media sosial yang menjadi wadah eksistensi manusia belum hadir dalam ruang-ruang komunikasi kita; pada saat hanya ponsel super mahal yang memiliki kamera dengan resolusi kurang dari 1 MB, pertanyaan akan etika versus seni tersebut menjadi bahan renungan yang dalam. Barangkali bila pertanyaan tersebut terlontar saat ini, di saat kita semua memiliki ponsel berkamera, tentu saja, memotret orang meregang nyawa (sekaligus numpang selfie di sebelahnya) adalah hal yang biasa (dan malah bikin popular) (note the sarcasm in my sentence ya).

Tapi bukan tentang pertanyaan itu yang hendak saya ulas di celotehan kali ini. Tapi tentang James Nachtwey.

Beliau adalah fotografer perang yang karya-karyanya banyak mengisi sampul majalah Time di tahun 80-90an. Apa hubungan Tuan Nachtwey dengan paragraph pertama? Pertanyaan retoris di atas adalah pertanyaan yang dilempar, dan dijawab sendiri oleh Nacthwey berdasar pengalamannya. Kala itu tahun 1998 saat reformasi tengah bergulir. Beliau berada di Ketapang Jakarta dan menyaksikan dengan mata kepala bagaimana perang berbasis SARA begitu mudahnya mencabut nyawa seseorang. Di hadapannya ada seorang Ambon yang berlari dikejar segerombolan orang bersenjata tajam. Sebagai orang “luar” yang “netral”, beliau mencoba menghentikan tindak pembunuhan tersebut. Hingga dua kali beliau memohon, tapi massa tak menghiraukannya. Dan kita tahu pada akhirnya. Nachtwey menangkap momen pembunuhan tersebut melalui lubang kameranya. Dia gagal menolong orang tersebut, namun batinnya, dengan memotret dan mengabarkannya pada dunia barangkali mampu menolong jutaan orang lain agar tidak terjerembab pada akhir tragis yang sama: korban konflik. Nachtwey yang membekukan masa perang dan terror seolah selalu mengingatkan kita akan masa lalu. Bahwa udara yang kita hirup detik ini tak pernah lepas dari pengorbanan dan darah jutaan manusia yang namanya tak tercantum dalam teks pelajaran sejarah.

James Nachtwey adalah sosok pertama yang membuat saya jatuh cinta pada fotografi. Dan Afrika. Dan studi tentang perdamaian dan perang. Karenanyalah pada masa itu saya bercita-cita menjadi aktivis perdamain di perbatasan Kenya. Ya ya ya, kalian semua boleh ngakak menertawakan saya yang ga bisa berenang dan takut kucing ini; tapi setiap orang, entah apapun statusnya, entah siapapun dia kini, tak pernah terlarang baginya untuk memiliki mimpi kan?

Seorang kawan yang dengannyalah saya berbagi mimpi (yang kebetulan pada saat itu mimpi kami tak jauh berbeda), saat ini sedang menapaki mimpinya. Ia melanjutkan studi ke jenjang tertinggi, berkeliling dunia, berdiskusi dengan profesor-profesor yang dulu namanya hanya sempat kami eja di buku diktat kuliah, menulis di media besar nasional bahkan jurnal internasional. Tapakan impian yang dulu kami idamkan, sedang dijalaninya saat ini. Sedangkan saya?

Saat saya mengetik curhatan ini waktu menunjukkan pukul sebelas malam, anak-anak telah terlelap setelah seharian tadi si bocah tak henti-hentinya menggoda saya, dari mencampuri sesi pemotretan, menabur bedak di karpet dan menganggapnya badai salju hingga menangis meraung-raung minta ke supermarket di jam 9 malam. Setelah si bayi yang tak bisa saya tinggal itu, yang bahkan harus saya gendong dan susui saat saya sedang mencuci piring, memasak hingga memotret itu, habis diperiksa dokter dan ternyata menderita tongue tie yang membuat berat badannya susah naik. Saya yang saat ini dengan badan linu semua, berdaster, dengan koyo menempel dari pundak sampai lutut, lupa kapan terakhir kali menyisir rambut, selama 24 jam setiap harinya disibukkan dengan aktivitas domestik dari setrikaan segunung sampai rencana tamasya anak TK.

Merenungi bagaimana semua ini berawal – mimpi – dan bagaimana saat ini (belum akhir) – realita – membuat saya tertawa. Bahwa ternyata, suratan takdir begitu sulit diterka. Bagi orang lain, katakanlah teman saya di atas, kebahagiaannya adalah menyusuri jalur sunyi menjadi seorang akademisi. Dan segigih apapun saya dulu mengejar mimpi menjadi aktivis perdamaian di Kenya bertahun lalu, ternyata saya bahagia dengan hidup saya yang sekarang. Yang setiap harinya juggling mengurus kegiatan rumah tangga sambil menyelipkan hobi di sela-selanya. Dan ternyata lagi, meskipun melenceng dari cita-cita mulia sebagai penjaga perdamaian dunia, saya sedang menjalani mimpi saya saat ini: seorang ibu rumah tangga yang memegang kamera. Meski yang saya abadikan bukan wajah keberingasan perang; namun hasil karya manusia yang mampu membuat mulut beringas untuk segera melahapnya: food photography.

Dengan demikian, meski kita berbeda aliran, saya ucapkan terima kasih kepada Pak James Nachtwey yang pernah memercik mimpi saya J

Back to the purpose of this blog: recipe and food photography. September lalu dapat kiriman ragi organic kering dari mbakyu @tarivc, seorang kawan instagram asal wrongthree yang kini tinggal di negeri Napoleon. Seneeeeng banget! Secara ya, selama ini udah bikin ragi alami 3 kali lebih dan selalu gagal dong :D

Jadi berbekal dried sourdough tersebut, hampir semingguan saya ngebut bikin roti (yang 2 resepnya dari beliau semua), berkejaran dengan hari perkiraan lahir si bayi. Ada 3 macam roti yang saya bikin, so siap-siap ngantuk baca resep panjang kali lebar ya.

1.     Pain au Levain Fermentescible
500 gr tepung protein tinggi
20-21 gr sourdough kering (11gr bila pake ragi instan)
13 gr garam
340 ml air matang

Cara membuat:
Campur bahan kering di wadah. Tuang air sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga rata dan kalis (saya ga sampe elastis).
Tutup, istirahatkan selama 2jam di suhu ruang.
Tinju adonan hingga kempes, uleni sebentar, bentuk bola, taruh di loyang, tutup serbet basah, istirahatkan lagi 1jam.
15 menit sebelum dipanggang, panaskan oven suhu 250C.
 
Tuang air panas di loyang kue, lalu masukkan loyang berisi air panas tsb ke dasar oven (metode steam bake/au bain marie). Gurat permukaan roti dg pisau tajam lalu panggang selama 30 menit atau sampai permukaan roti kecoklatan.
Keluarkan dari oven, tempatkan di rak kawat hingga dingin.
Hirup aromanya saat mengiris, nikmati kebahagiaan bikin roti homemade utk keluarga

2.     No Knead Baguette

450 gr tepung
315 ml air
9 gr garam
1/2 sdt dried sourdough

Cara membuat:
Campur bahan kering di wadah bersih, tuang air sambil diaduk dg sendok kayu sampai rata. Adonan akan lengket. Tutup dg plastik, istirahatkan di suhu ruang temp 20C selama 12-18 jam (saya: simpan di kulkas rak bawah selama 20jam).
Adonan roti telah siap bila sudah mengembang dan muncul gelembung2 udara.
Taburi tepung secukupnya di meja kerja, ambil adonan dan uleni sebentar (taburi tepung sedikit demi sedikit bila adonan sangat lengket). Bagi adonan, bentuk panjang, letakkan di loyang (saya bagi 3 tak sama rata). Tutup dg serbet, istirahatkan 2jam. Saat sudah mengembang, dg pisau tajam, gurat permukaan baguette.

Panaskan oven suhu 250C. Dg metode steam bake, panggang baguette selama kurleb 30m atau sampai kecoklatan.
Angkat, dinginkan di rak kawat.
Siap dinikmati gitu aja dg olesan butter atau diolah jadi baguette sandwich, garlic bread, bruschetta dsb


3.     Brioche Au Levain Fermentescible

500 gr tepung protein tinggi
2 butir telur
220-250 ml susu
50 gr gula pasir
12 gr garam (1 sdt)
20 gr dried sourdough (atau 11 gr ragi instan)
100 gr mentega

Cara membuat:
Campur telur, gula, garam dan susu di wadah. Tuang tepung dan dried sourdough. Uleni hingga kalis.
Masukkan mentega, uleni lagi hingga elastis. Adonan akan sedikit lembek, ga perlu ditambah tepung yes.
Tutup dg handuk basah, istirahatkan selama 30 menit.
Tinju adonan, uleni sebentar lalu bentuk sesuai selera. Istirahatkan lagi selama 30-45 menit.
Nyalakan oven suhu 200C selama 15m. Olesi permukaan roti dg kuning telur lalu panggang 30m atau hingga bau harum menguar dari oven dan warna roti keemasan.
Keluarkan dr oven, panas2 olesi mentega. Siap dinikmati

Thursday, September 8, 2016

Mi Buah Bit




Tidak ada yang instan di dunia ini, sayang. Bahkan untuk membuat mi instan, kita masih harus merebus air terlebih dahulu. Jadi bisa dibayangkan berapa lama proses yang dibutuhkan membuat mi sendiri lalu memasak dan menghidangkannya di meja berupa Mi Ayam seperti yang dijual abang-abang gerobak pinggir jalan?

Tapi perlu kau ketahui sayang, bahwa pengalaman 3 jam menguleni, menggiling, mencacah daging ayam, menumisnya, membuat kaldu bening berminyak hingga menggoreng pangsit garing (yang untungnya pangsit boleh beli) hingga membuat acarnya; semuanya sepadan dengan senyuman dan kepuasan menghadirkan masakan rumahan untuk keluargamu. Makanan instan memang murah, gampang dan yeahhhh enak. Tapi kita sepakat tak ada yang bisa mengalahkan masakan ibu yang penuh cinta kasih kan?

Sedikit memodifikasi dari resep mi milik blogger keceh IsnaSutanto dengan menambahkan sesendok makan tepung tapioca  ke dalam adonan, mi buah bit terasa sedikit lebih kenyal, meski harus diakui tidak sekenyal mi-mi yang beli di pasar (yang entahlah, kita tak tahu pasti bahan pembuatnya). Sedangkan saat mengolahnya jadi Mi Ayam, saya gunakan resep milik busutilmenari @Anitajoyo, a very best friend who happen to be my inspiration whenever I run out of idea what to cook.

Sebagai catatan, bila membuat jus buah bit sebaiknya airnya sedikiiit saja, asal bisa dibuat blender buah bit. Jus buah bit milik saya terlalu encer, sehingga ketika dicampur di dalam adonan mi warnanya terlalu muda. Masih mentah sih bagus, nge-pink gitu. Tapi waktu udah dimasak, lhaa kok jadi kekuningan pucat :D

Berikut resepnya saya tulis lagi buat menuh-menuhin blog hahahaha.


Mi Buah Bit

500 gr tepung terigu protein tinggi
1 sdm tepung sagu tapioca (bisa pake tepung sagu atau tapioka/kanji)
1 sdt garam
3 butir telur
100 ml jus buah bit hasil dari memblender 2 buah bit + air segelas kecil, saring, ambil 100 ml
Tepung sagu untuk taburan

Cara membuat:
Campur tepung terigu, tepung sagu dan garam di wadah, aduk rata.
Masukkan telur, aduk-aduk dengan tangan sambil menuang jus buah bit sedikit demi sedikit.
Uleni hingga rata. Bila terlalu kering, tambah just bit 1 sdm. Tesktur akhir adonan liat, tidak basah, tercampur sempurna.
Siapkan pasta maker, bagi adonan @100 gr. Giling dengan pasta maker dari nomor terkecil hingga ketebalan sesuai selera (saya berhenti di nomor 7). Sesekali taburi tepung sagu agar tidak lengket.
Pasang pemotong mi, potong adonan sesuai selera.
Gulung, taruh di dalam plastic lalu masukkan ke wadah kedap udara. Tahan di kulkas selama 5-7 hari.


Mi Ayam Gerobak

Bahan:
3 gulung mi
Sayur sawi, potong-potong
Seledri, daun bawang dan bawang goreng untuk taburan

Taburan ayam
200 gr fillet ayam, potong dadu
2 siung bawang putih, cincang halus
1 sdm kecap manis
½ sdm saus tiram
½ sdt kecap asin
Gula, garam, merica secukupnya
Aduk rata semua bahan, simpan di kulkas 60 menit. Panaskan sedikit minyak, tumis ayam hingga matang.

Kuah: rebus dengan api keciiiil
Tulang ayam
½ liter air matang
2 siung bawang putih, geprek
1 cm jahe, geprek

Minyak bawang: tumis dengan api kecil hingga harum dan kulit ayam dan bawang kering
75 ml minyak sayur
4 siung bawang putih, geprek
Kulit ayam

Acar timun: Campur semua bahan hingga gula dan garam larut, simpan di wadah kedap udara, tahan hingga 2 minggu di kulkas
Timun, iris korek api
Wortel, iris korek api (saya skip)
Cabe rawit hijau, buang tangkainya
Gula dan garam
Cuka masak
Air sedikit

Pake resep yang sama, tapi mi buah bitnya beli jadi merk Javara

Cara mengolah untuk 1 porsi mi, aduk rata di mangkuk:
1 sdm minyak bawang
1 sdt kecap asin
½ sdt kecap ikan
1 sdt kecap manis
¼ sdt minyak wijen
Merica

Rebus mi dan sawi, masukkan ke dalam mangkok berbumbu, aduk rata.
Taburi dengan taburan ayam, daun bawang, seledri dan bawang goreng.
Sajikan bersama semangkok kuah panas, acar timun serta pangsit goreng.





Sunday, August 14, 2016

Jelajah Boga Sulawesi



Selama lebih dari 30 tahun (yah ketauan deh umurnya :D), belum pernah sekalipun saya menginjakkan kaki di luar Pulau Jawa dan Bali. Alasannya klasik, keluarga saya ga ada yang hidup di luar kedua pulau tersebut dan kami bukanlah tipe keluarga petualang yang gemar menghirup atmosfer tanah antah berantah sembari menyapa orang asing. Malah sebaliknya, almarhum bapak saya bisa dibilang sebagai seorang yang overprotektiv. Saya ingat benar saat perpisahan SD, bapak tidak memberi ijin saya mengikuti studi tur ke area Tapal Kuda. Beliau terlalu kuatir terhadap anak gadisnya yang berusia 12 tahun melancong bersama teman sekelas dan guru-gurunya tanpa kehadiran orang tua. Sehingga, jarak terpanjang yang pernah kami tempuh adalah Bali, karena di Pulau Dewata tersebut beberapa sanak saudara tinggal.

Beberapa saat lalu, saya membaca sebuah post di instagram yang kira-kira berbunyi “The best education you will ever get is traveling. Nothing teaches you more than exploring the world and accumulating experiences”.

Kalimat tersebut mengendap di benak selama berhari-hari. Sungguhpun saya ingin mengangguk membenarkan, tapi ternyata saya tidak cukup sependapat. Untuk seseorang yang memiliki latar belakang keluarga seperti saya (kakak tertua saya meninggal di tanah nun jauh sana yang akhirnya membuat kedua orang tua saya overprotektiv terhadap ketiga anak gadisnya), bertualang menjadi kata yang asing di telinga. Petualangan terbesar yang pernah saya lakukan terletak pada lembar-lembar buku yang selama ini saya baca. Pun ketika saya menikah. Suami adalah tipe pelancong yang bisa hidup berminggu-minggu hanya dengan satu ransel di pundaknya (yang tentu saja berisi atm wuakakkaka). Tapi saya sangat jarang ikut suami. Mungkin karena saya tidak terbiasa hidup di suatu tempat yang tidak saya kenal. Mungkin saya terlalu malas membayangkan kerempongan bertualang bersama bocah. Atau mungkin saya terlalu nyaman duduk di sofa membaca buku dan setahun terakhir ini, membuat aneka makanan tradisional yang asing di lidah.


Sehingga bagi saya, perjalanan bukanlah tentang tempat, jarak atau berapa banyak foto yang kamu bagi di medsos untuk menunjukkan eksistensimu pernah ada di sana. Perjalanan bagi saya pribadi adalah mengerjakan, menyukai dan terlarut dalam sesuatu yang membangkitkan semangatmu dan membuatmu merasa penuh. Sesuatu itu bisa jadi sekedar ngobrol dengan teman lama, tetangga jauh atau cuma bertegur sapa dengan mbok-mbok penjual sayuran di pasar tradisional. Dalam kamus saya, perjalanan yang saya lakukan akhir-akhir ini adalah memasak panganan tradisional daerah lain.

Saya memang belum pernah menginjakkan kaki di tanah Sulawesi. Namun dengan memasak makanan khas mereka, saya sedikit banyak bisa membayangkan keramahan dan senyum orang Sulawesi sembari merasakan Angin Mamiri menyentuh wajah saya. Dengan membuat panganan Sulawesi, saya menyadari betapa mereka sangat mencintai rempah-rempah dan daun-daunan, dan bagaimana kami (orang Jawa) memiliki panganan yang hampir sama rasanya namun berbeda nama dan cara pembuatannya. Saya sudah jatuh cinta pada Sulawesi hanya dengan masakan yang saya buat di rumah tanpa sekalipun menginjakkan kaki di ranah Bugis. Dan bukankah itu tujuan dari perjalanan?

Selama bulan Mei lalu, saya membuat berbagai varian masakan Sulawesi dari jajanan kecil, minuman hingga hidangan utama. Tentu tak adil mengatakan bahwa ke-12 jenis hidangan di bawah ini mampu mewakili citarasa Sulawesi, karena toh ada ratusan bahkan ribuan jenis masakan asli Sulawesi yang tak sempat saya bikin. Bahkan aneka bubur sayur seperti Tinutuan atau Binte Bilihuta serta aneka olahan ikan khas Sulawesi juga luput dari tangan saya. Namun semoga sedikit resep di bawah ini yang saya coba bisa menggambarkan sekilas tentang masakan Sulawesi. Dan bagi saya pribadi, masakan asing yang belum pernah saya makan atau masak sebelumnya ini benar-benar memperkaya pengetahuan dan rasa di lidah.

Jajanan tradisional
Apang Coe
Sumber: Primarasa Aneka Kue Tradisional

Bahan:
10 helai daun pandan lebar utk takir
150 gr gula merah
 
125 ml air kelapa
200 gr tepung beras
5 gr ragi instan
75 gr tepung terigu serbaguna
1/2 sdt garam
1/2 sdt baking powder
200 ml santan dr 1/2 butir kelapa
2 pandan potong 2cm

Cara membuat:
Potong daun pandan lebar sepanjang 25 cm, lipat tanpa putus 5x5 cm. Potong 1/2 lipatan, lalu bentuk takir (spt melipat kardus), jepret pake streples.
Sisir gula merah, masak bersama air kelapa dan daun pandan hingga gula larut. Saring, sisihkan hingga hangat.
Masukkan tepung beras di wadah, tuang air gula merah sedikit demi sedikit sambil dikeplok2 hingga halus sekitar 15 menit.
Masukkan ragi instan, aduk rata, istirahatkan 30menit.
Masukkan tepung terigu, garam dan santan, lalu keplok2 selama 15 menit. (Stlh fase ini sy istirahatkan lagi 15 mnt).
Panaskan dandang dengan api sedang. Tuang adonan ke takir hingga hampir penuh lalu kukus selama 20 menit tanpa membuka tutup dandang.
Angkat, sajikan dengan kelapa parut.

Catatan:
- saya ngukusnya 3 bagian, bagian pertama Apang Coe berhasil ngakak, lainnya senyum simpul. Spertinya adonan gabisa nunggu? Lain kali mesti pake dandang besar.
- sebagai taburan saya pake kelapa parut segar. Biar lebih awet, kelapa parut + garam sauprit dikukus dulu


Koyabu
Sumber: Tabloid Saji

Bahan:
275 gr tepung ketan putih
300 gr kelapa parut kasar
1 sdt garam
150 gr gula merah, disisir halus
20 lembar daun pandan besar, potong 20cm utk membungkus

Cara membuat:
Campur tepung ketan, kelapa parut dan garam, aduk rata.
Ambil daun pandan, beri adonan, isi dg gula merah, tutup adonan.
Bungkus dg daun pandan, semat dg lidi.
Kukus dg api sedang 20menit sampai matang.

Notes:
- Bagian tersulit ada di cara membungkus, krn itu cari daun pandan yg buesar yaa, punya saya pandannya ukuran sedang, jd ukuran Koyabu-nya kecil-kecil, sekali hap di mulut


Barongko and Mandafa
Barongko ini versi Sulawesinya Carang Gesing: perpaduan pisang, santan dan telur yang dibungkus daun pisang. Paling enak dinikmati dingin keluar dari kulkas, meski hangat-hangat pun tak kalah enaknya. Sedangkan Mandafa adalah Barongko yang dilapisi dengan bubur sum-sum di atasnya.

Barongko

Sumber @anitajoyo


10 pisang gepok, potong2
2 butir telur
100 gr gula pasir
500 ml santan
3 daun pandan, potong2 ukuran 5cm
Daun pisang utk membungkus

Cara membuat:
Masukkan pisang, santan dan gula ke blender, haluskan. Tambahkan telur, blender sebentar asal rata.
Ambil 1 sendok sayur adonan, taruh di daun, tambahkan 1 potong daun pandan, bungkus bentuk tum. 
Kukus selama kurleb 30menit sampai matang dan bau harum menguar di dapur. 


Catatan:
Pilih pisang gepok yg matang dan berwarna merah, saya pake gepok putih, warnanya jadi pucat, tp tetep enyaaak!
Mbungkus tum adonan cair ini syusyahhh, sebagian daun saya bentuk takir biar lbh mudah. Pengen lbh gampang lagi, taruh di ramekin yg dialasi daun pisang dan pandan.


Mandafa


Lapisan bawah :
10 pisang gepok, potong2
2 butir telur
100 gr gula pasir
500 ml santan

Lapisan atas :
50 gr tepung beras, larutkan dengan sedikit air
300 ml santan
1 sdt garam
1 sachet susu kental manis putih

Cara membuat:
Lapisan bawah: Masukkan pisang, santan dan gula ke blender, haluskan. Tambahkan telur, blender sebentar asal rata.
Siapkan cucing, olesi tipis-tipis dengan minyak goreng. Tuang adonan 2/3 cucing, kukus dengan api sedang.
 
Sesaat sebelum adonan lapisan pertama matang, bikin lapisan atas: didihkan santan, masukkan larutan tepung beras. Aduk rata. Tambahkan garam dan susu kental manis, aduk terus sampai mengental.
 
Tuang lapisan atas ke adonan barongko di cucing, kukus lagi selama 5 menit hingga set.
 
Angkat dari kukusan, tunggu dingin sebentar, lalu keluarkan dari cucing.
 
Nikmati dingin keluar dari kulkas.
 

Catatan:
- Biar lebih gampang, taruh di ramekin, jadi makannya tinggal nyendokin.
- Kalo mau bubur sum-sumnya lebih encer, tinggal tambah santannya.
 

Sanggara Peppe

Setahu saya penggunaan pisang mentah hanya diperuntukkan untuk bumbu Rujak Cingur yang diulek bersama petis, kacang dan gula merah. Ga pernah sekalipun terlintas di pikiran kalau pisang mentah bisa diolah jadi pisang goreng khas Makasar, kalau bukan karena @citrahendrawijaya, seorang teman instagram yang pernah mengaplod foto Sanggara Pepped an sukses bikin liur menetes. Pisang goreng penyet ini gampang banget bikinnya, bahannya murah dan yang pasti, enaaaak!!


Bahan
Pisang kepok yang masih hijau, kupas lalu rendam air garam 10 menit 


Sambel terasi:
3 cabe rawit 
1/2 sdt garam 
1/2 sdt gula pasir Terasi 
1 tomat kecil 
Jeruk limau

Cara membuat:
Goreng pisang 1/2 matang, penyet pake ulekan, lalu goreng kembali sampe garing 
Sambal terasi: 
Ulek semua bahan kecuali jeruk limau, saat akan disajikan kecruti perasan jeruk limau.


Minuman Khas Sulawesi

Es Pisang Hijau
Siapa yang ga kenal Es Pisang Hijau? Bukan hanya di Sulawesi, bahkan di kota kecilpun kita bisa menemukan es berisi pisang yang dibungkus adonan tepung beras dan ekstrak pandan, bubur sum-sum, susu kental manis plus sirup merah ini. Beli sendiri tentu mudah dan murah, tapi bikin sendiri tentu lebih enak dan puas daaaan hasilnya buanyaaak!

Sumber: JTT

Bahan pisang ijo:
- 8 buah pisang gepok matang, kukus
- 100 gr tepung beras
- 100 gr tepung terigu
- 25 gram gula pasir
- 300 ml santan kental dari 1/2 butir kelapa
- 250 ml air pandan (100 gr daun pandan, potong2, blender dg 250 ml air, saring) 


Bahan vla santan:
- 50 gram tepung beras
- 250 ml santan kental
- 25 gr gula pasir
- 1/2 sendok teh garam

Pelengkap:
- es batu
- sirup DHT atau coco pandan
- susu kental manis

Cara membuat:
Campur tepung beras, tepung terigu, santan, air pandan dan gula pasir, aduk rata hingga licin dan tidak menggumpal. Tuang adonan ke loyang tahan panas, kukus selama 20 menit hingga matang. 
Angkat adonan dan uleni dg sendok nasi hingga kalis. 
Letakkan selembar plastic wrap di permukaan meja. Olesi permukaanya dengan minyak goreng, letakkan 3 sdm adonan kulit, tipiskan dan letakkan sebuah pisang di atasnya. Bungkus pisang dengan adonan kulit hingga pisang tertutup.
Siapkan selembar daun pisang, letakkan adonan yang telah dibentuk di atasnya. Lipat daun pisang dan bungkus pisang ijo spt bentuk lontong. 
Kukus selama 15 menit, dinginkan.

Vla santan:
Masukkan semua bahan vla santan, aduk hingga halus dan larut, tambahkan daun pandan. Masak dg api kecil hingga mengental. Angkat dan dinginkan.

Penyajian:
Siapkan mangkuk, tata potongan pisang hijau, tambahkan vla santan dan es serut, kucuri SKM dan sirup DHT.

Catatan:
-vla santan sy bikin kental kyk bubur sumsum, krn klo kena es yg mencair biar ttp kerasa. Klo mau encer, kurangi tepung beras


Pallu Butung

Pallu Butung ini friendly version-nya Es Pisang Hijau. Masih menggunakan vla santan, susu kental manis, sirup DHT serta pisang; hanya bedanya pisangnya hanya dikukus tanpa dibalut adonan tepung beras.

Es Brenebon

Kuliner Manado ga ada matinya, termasuk minuman khas ini. Terbuat dari kacang merah dan cokelat, Es Brenebon ini jauhhh lebih enak dari es-es pake kacang merah ala Korea yang lagi booming.

Bahan:
150 g kacang merah
 
1/2 sdt garam
4 sdm gula pasir
2 batang kayu manis
2 helai daun pandan
 
2 sdt coklat bubuk
200ml santan kental
SKM coklat
es serut

Cara Membuat:
Rebus kacang merah dan kayumanis sampai lunak. Masukkan garam, gula & coklat bubuk, masak hingga mendidih, angkat, sisihkan.
Didihkan santan dan daun pandan, angkat, sisihkan.

Cara penyajian:
Tuang santan ke dalam gelas, tambahkan es serut dan beberapa sendok kacang merah. Guyur dengan SKM coklat.

Catatan:
Santan bisa diskip biar rasanya lbh ringan
 

Hidangan Utama
Karakteristik utama masakan Sulwesi itu penggunaan daun-daunan yang banyak, terutama daun pandan. Rasanya segar dan lebih ringan daripada masakan Jawa yang terbiasa pakai bumbu lengkap.

Ayam Woku Belanga

Resepnya sy ambil dr blog dapurgue.blogspot.co.id milik mb Lia, haturtenkyu mbaak


Bahan:
1/2 kg ayam, bersihkan dan potong2
50 gram tomat, iris2 (boleh tomat ijo kalau mau rada asam)
Garam dan sejumput gula
Air jeruk limau sesuai selera asam
400 ml air
Sedikit minyak untuk menumis

Bumbu Daun:
2 lembar daun pandan (pilih yg tidak terlalu tua), diiris halus
1 batang sereh, bagian putihnya diiris halus
3 lembar daun jeruk, iris halus
1 lembar daun kunyit, sobek dan simpulkan (skip)
Daun kemangi, petik daunnya
2 tangkai daun bawang, iris2

Bumbu Halus, goreng semua, blender jadi satu:
5 butir bawang merah
4 cabe merah
2 cm jahe
3 cm kunyit
4 butir kemiri

Cara membuat:
Panaskan minyak, tumis berurutan: daun pandan dan sereh, setelah wangi masukkan bumbu halus dan daun kunyit.
Tumis hingga semuanya matang, masukkan potongan ikan, daun jeruk, garam, gula dan air, didihkan.
Masak api kecil, tertutup selama 20 menit.
Buka tutupnya, tambahkan air jeruk limau dan tomat, masak selama 15 menit lagi atau sampai kekentalan sesuai selera.
Masukkan kemangi dan daun bawang, aduk sebentar, angkat dan sajikan hangat.


Tumis Bunga Pepaya

Sumber: @hestihhakim, dg modifikasi dikiit menyesuaikan ketersediaan bahan dan faktor males 😅 (mestinya bumbu dihalusin, tapi saya iris tipis aja)


Bahan :

150 gr bunga pepaya, siangi, rebus dg asam potong, tiriskan, lalu aduk2 dengan garam
1 ikat kangkung, siangi
250 gr teri nasi
3 btg serai, ambil bagian putihnya, geprek
5 lbr daun jeruk, sobek sobek
3 lbr daun pandan, robek dan simpulkan
3 btg daun bawang, iris serong
daun kemangi
2 cm jahe, geprek
gula garam secukupnya
1 sdm saus tiram
Cabe rawit

Bumbu rajang:
4 bh cabai merah
10 bh bawang merah
5 siung bawang putih

Cara membuat :
Panaskan minyak, masukkan daun pandan sampai harum. Masukkan bumbu rajang, serai, jahe. Tumis hingga matang dan wangi.
Tambahkan teri nasi dan daun bawang, aduk rata.
Masukkan bunga pepaya dan kangkung, aduk hingga tercampur rata. Tambahkan saus tiram, masak hingga matang.
Tambahkan gula dan garam, terakhir masukan daun kemangi dan cabe rawit, aduk sebentar, angkat, sajikan dg nasi panas. 


Cakalang Jagung Manis

Sumber: Primarasa via @anitajoyo

 

Bahan:
150 gr cakalang, kukus, suwir (sy pake tuna)
2 cabe merah besar, iris serong tipis
3 batang daun bawang, iris
8 daun jeruk, iris tipis
3 jagung manis, pipil
1 ikat kemangi
100 ml air
1 jeruk limau

Bumbu, tumbuk kasar:
10 butir bawang merah
6 cabe merah
7 cabe rawit
2 cm jahe
1 batang serai
Gula
Garam

Cara membuat:
Tumis bumbu hingga harum, masukkan cabe merah, daun bawang dan daun jeruk. Aduk.
Masukkan tuna suwir, jagung pipil dan air, aduk rata, masak hingga air menyusut, bumbu merasuk.
Tambahkan kemangi dan kucuri air jeruk limau sesaat sebelum diangkat.

Dadar Jagung Manado

Bahan:
2 buah jagung manis ukuran sedang, pipil
100 gr tepung beras
30 gr tepung terigu
1 butir telur kecil
70 ml air
1 batang daun bawang
3 lembar daun jeruk, buang tulangnya, iris tipis
1/4 sdt ketumbar bubuk
7 siung bawang merah, iris tipis
Gula, garam, merica

Cara membuat:
Panaskan minyak.
Campur semua bahan jadi satu, aduk rata.
Ambil 1 sendok adonan, goreng di minyak banyak yg sudah panas hingga kuning keemasan. Angkat, tiriskan.

Ayam Iloni

Sumber: @magfirahh_

Bahan:
1 ekor ayam kampung
 
Jeruk nipis
2 batang serai, geprek
2 daun jeruk, sobek2
3 daun salam
1 daun pandan, potong2 kecil
500 ml santan dr 1/2 butir kelapa

Bumbu halus
6 bawang merah
5 bawang putih
4cm jahe
4cm kunyit
5 butir kemiri
10 cabe merah besar (sy cuma pake 8)
Cabe rawit (sy skip)
Gula garam

Cara membuat:
Cuci bersih ayam, lumuri jeruk nipis dan garam, biarkan sebentar, bilas.
Tumis bumbu halus dg sedikit minyak hingga wangi, masukkan serai, dan daun2an, masak sebentar hingga wangi. Masukkan ayam, tuang santan sedikit demi sedikit sambil diaduk sesekali hingga bumbu meresap dan daging ayam lunak.
Matikan kompor, angkat.
Panggang ayam dalam oven yg sudah dipanaskan atau langsung dipanggang di grill/wajan hingga berwarna kecoklatan (sy manggang pake oven, loyang dialasi 6helai daun pandan lbh dulu, biar makin wangiiii).
Nikmati panas dg nasi ngepul, lalapan dan sambal rica rica.


Saturday, August 13, 2016

In English



Tiga minggu sudah menyimpan kamera di dalam kardusnya, lalu mengepak kayu-kayu palet dan menaruhnya di sudut belakang rumah. Tak lupa menata rapi aneka properti foto berdasarkan jenisnya: yang kayu-kayuan, gerabah dan keramik lebar besar di lemari bawah; sedangkan keramik-keramik kecil di lemari atas. Tripod yang sudah patah itu juga telah tenang di pojokan lemari menanti masa pensiunnya. Dengan ini, saya 90 persen meninggalkan dunia FP yang saya geluti 2 tahun terakhir. Akan menjadi 100 persen saat saya tak lagi mengaktifkan aneka media sosial, terutama instagram untuk tenggelam ke dalam kesibukan baru menyambut jabang bayi. 

Dan 3 minggu penuh kegaringan karena ga boleh masak-motrek-baking sama suami akibat kontraksi awal yang cukup lama dan menyiksa dan bikin parno; garing dan bosan adalah kata yang tepat untuk menjabarkan kondisi saya akhir-akhir ini. Beruntung saya sempat mengunduh wattpad dan nyasar di Storms and Silence, sebuah karya fiksi abad 19 di Inggris hasil karya Rob Thier. And yeah, I spend my time reading this hilarious, incredibly wit and funny romance book. 

Baca novel berbahasa Inggris itu alamak bikin mual, terutama kalo novelnya sastra klasik seperti Lolita (sorry Nobokov, I've never finished your masterpiece due to my lack of ability in absorbing your irrevocably poetic language) atau Anna Karenina-nya Tolstoy yang dari dua tahun lalu masih saja di halaman belum 200. I do love historic novel! They bring some idyllic atmosphere where we can play our imagination on how our ancestor live their simply complicated life when modern technology is something out of their mind. 

Anyway, yang bikin suka banget sama Storm and Silence (dan sekuelnya In The Eye Of The Storms) adalah: setting novel ini berada di tahun 1800an saat wanita-wanita Inggris masih memakai baju dengan korset dan kurungan dari kawat untuk roknya. Lalu yang makin bikin kepincut adalah, Lilly Linton, sang protagonis di cerita ini adalah seorang sufragis! Hell yeah! Emang sufragis itu apaan sih? To put it in simple definition, sufragis adalah orang-orang yang menuntut persamaan hak laki-laki dan perempuan di saat kondisi sosial, politik, ekonomi dan budaya masyarakat saat itu yang masih sangat patriarkis-misoginis. Misalnya nih, pada tahun 1800an, perempuan tidak memiliki hak pilih politik karena diyakini bahwa otak perempuan tidak lebih baik dari otak simpanse dan perempuan terlalu labil kondisi psikologisnya untuk mampu menanggung tugas mulia sebagai pengambil kebijakan politik suatu negara. Hak-hak dasar seperti inilah yang dituntut oleh kaum sufragis, termasuk Lilly Linton sejak di awal bab Storm and Silence saat ia berpura-pura sebagai laki-laki agar bisa masuk ke bilik pemilihan umum... dan tentu saja berakhir tragis saat ia ketahuan dan dimasukkan ke penjara. 

Masih ada banyak "jiwa feminis" Lily Linton di setiap hembusan nafas novel ini #halah. Seperti bagaimana ia harus terus berpura-pura sebagai laki-laki demi bisa bekerja di perusahaan raksasa milik Rikkard Ambrose. Kenapa mesti berpura-pura? Karena pada jaman itu, lagi-lagi, perempuan tidak diijinkan untuk bekerja di sektor publik. Tugas perempuan ya hanya masak, manak, macak. Sekolah ga cukup tinggi-tinggi, asal bisa baca tulis lalu diwajibkan pintar berdansa, menjahit, berkebun, memasak agar bisa dapat suami. Lalalalalala. Kesemua hal itu yang ditolak Lily mentah-mentah, life isn't only about chasing wealthy prince charming, lads!

Yang bikin gabisa berhenti lagi, Sir Rob (sebutan Rob Thier sang pengarang) adalah seorang mahasiswa sejarah di kehidupan nyata, sehingga meski ceritanya hanya fiksi belaka, namun beliau menggambarkan setting novelnya berdasarkan fakta sejarah waktu itu. Misalnya di buku ketiga Silence is Golden dibukan dengan Lily and the gank yang disidang karena ketahuan bersepeda (iya bersepeda!!!). Jadi saat itu perempuan dilarang bersepeda karena gerakan mengayuh yang tidak sopan dan beresiko memperlihatkan kaki mereka (kaki perempuan disebut sebagai unmentionables, intinya aurat gitu); sedangkan celana hanya diperuntukkan untuk laki-laki. Nah loh, bingung kaaaan...

Teruuus, selain cerita yang menarik, lucu dan cerdas; bahasa yang digunakan itulohhhh, gampang banget dicerna meski kadang pake istilah-istilah ga umum dan british banget. Kalo menurut saya sih, novelnya Sir Rob ini bahasanya di bawah novel sastra klasik tapi jauh di atas novel chicklit masa kini. Ahhh, coba baca deh, Storm and Silence series is definitely my most favorite book on wattpad!

Oke prolognya udah selesai. Aslinya bingung mau nulis apa setelah 3 bulan lebih ga ngeblog. Back to recipes. Karena temanya English, resepnya tentang English Breakfast aja yah, semacam pancake dan waffle gitu. Sarapan keminggris gini paling enak, nyiapinnya bisa malam sebelumnya, pagi tinggal ngangetin dan nyeprotin aneka selai, buah-buahan, olesan dsb. Cukup lah buah pengganjal perut sebelum nasi pecel atau bubur ayam di jam 8 pagi huahahhahha. 





Waffles
Sumber: mrbreakfast

Bahan:
1 ¾ cup tepung serbaguna
2 sdt baking powder
1 sdm gula pasir
½ sdt garam
3 kuning telur, kocok lepas
1 ¾ cup susu cair
½ cup minyak sayur
3 putih telur, kocok kaku

Cara membuat:
Panaskan cetakan waffle dengan api kecil.
Campur semua bahan kering.
Campur kuning telur dan susu, tuang ke dalam bahan kering.
Masukkan minyak, aduk rata.
Perlahan masukkan putih telur, aduk balik (jangan over mix).
Pastikan cetakan waffle telah panas (saat adonan dituang akan berbunyi cesss)
Tuang 1 sendok sayur ke tengah cetakan waffle, tutup. Masak selama kurang lebih 4 menit, balik cetakan, masak sisi satunya selama 2 menit.
Angkat, dinginkan di rak kawat.
Sajikan dengan, apapun!


Catatan: Selain untuk waffle, saya juga pake resep ini untuk bikin pancake. Yang bikin malesin emang ngocok telurnya 2 kali, tapi worth to try, bukan tanpa alasan putih telur dikocok sendiri karena itu yang bikin wafflenya fluffy di dalam tapi renyah di luar.


Selain sarapan pake waffle atau pancake, salah satu sarapan paling gampang (atau dijadiin bekal bocah) ya ini. Bikinnya sambil merem pun bisa. Tinggal panasin mentega di pan buat manggang roti dan sosis dan nyeplok telur. Lalu blansir brokoli. Lalu tambah mayones buat cocolan. Lalu tambah aneka buah potong. Lalu tinggal hap deh!

Friday, May 6, 2016

Sago Porridge of Ambon


I never consider myself as melodramatic people. Well yes I can’t stop sobbing every time I watch The Notebook, whether for the first or the sixth time. Or a moment to remember. Or any tear jerking movies, actually. But my face is designed without bright big eyes and full red lips and chubby red tomato cheeks that deliver range of human expressions. Some says my face is emotionless instead, a little bit eerie, though deep inside my heart I must say that I’m a good person. And a cool one.

But there are times, we always have some moments that stick in our brain for years, buried deep inside and just waiting the right time to explode and spark our tears. And this Sago Porridge is one of my tear jerking memories.

My mother always make Sago Porridge every Ramadan for takjil (snacks made during Ramadan, eaten just before iftar), and share them with our neighborhood. It wasn’t an expensive food, it is a really cheap, humble yet simple one, instead. I don’t even know what’s so special about Sago. I mean my mother is not only make sago porridge, she also made tapioca pearl porridge and other porridge or ice I don’t even know the name. But there’s something about sago.

Maybe because of its appearance. When it was raw, it does look like a baby biscuit, except that it is so damn hard to bite. Or maybe because its origin. Originated from Ambon (that’s why some people called it Ambonese Sago), a far faraway exotic island I’m always curious about. Or maybe it’s everything about Sago. When cooked, the texture is uniquely grainy with a hint of Javanese palm sugar and pandan leaves. But one thing for sure, all I remember about sago porridge is my mother’s warmth. Her figure when she cooked in the kitchen, when she soaked the sago or strained the coconut milk after grate the coconut flesh with her bare hand in an old wood grater which has a yellow turmeric stain in it (that made the coconut milk has a slightly yellow color). Right after it’s cooked and cool, she divided it in at least 15-20 little bowl and pour it with thick coconut milk. She then handed me the old cheap plastic tray and asked me to share them with my neighbors. I remember every detail like it was a movie scene.


Couple of days ago when I found Talas/Taro, the first thing came to my mind is making sago porridge with cubed talas in it, just like what my mother used to make. And while making the porridge, my son help me to soak the sago, strain the coconut milk and yes, I asked him to share bowls of sago porridge to my neighbor. He looked so happy when he took the porridge, especially when one of my neighbors gave him a glass of soy milk in return. Quietly I hope he will remember this day. They joy of making something from scratch and the joy of sharing. Hopefully..

Sago Porridge
100 gr sago, soaked in a liter of water overnight or at least 3 hours until dissolve
200 gr steamed talas, cut in cubes
200 gr palm sugar
2 pandan leaves
Dash of salt

Coconut Milk Sauce
1 litre of thick coconut milk
2 pandan leaves
Pinch of salt
2 tbsp tapioca flour dissolved in 1 tbsp water


Direction:
Sago Porridge: mix all the ingredients except talas in a sauce pan, bring to boil until the sago is thicken. Add the talas, stir evenly. Turn off the heat, let cool.
Coconut Milk Sauce: Mix the coconut milk, pandan leaves and salt in a saucepan, bring to simmer. Add the tapioca mixture, stir until simmer and the sauce is thicken.
Serve the porridge with coconut milk sauce.

Share with your neighbor. This 100 gr of raw sago resulting almost a litre of porridge, enough to feed 6-8 bellies.